Hujan
semakin menjadi-jadi. Petir menggila menebarkan lidah api menjilat-jilat ke
beberapa pohon. Suaranya bergemuruh hebat menyentakkan setiap indra pendengaran
makhluk hidup. Seekor elang lembah yang kedinginan berusaha menyelipkan
tubuhnya disebuh lubang kayu, menghindar dari guyuran hujan yang tak kenal
ampun. Sesekali terdengar lolongan anjing hutan yang semakin mengigilkan,
semakin menyesakkan bulu roma dan menebarkan hawa ketakutan. Angin dingin yang
membekukan kalbu, menusuk-nusuk ke tulang, menembus menyesakkan dahan-dahan.
Hutan ini begitu perawan, gelap
sepi, di dasar lembah yang paling dalam. Hanya ada gemericik air jatuh di bibir
tebing. Hujan yang mengibas-ngibas di ujung-ujung kayu mengubah semua menjadi
temaram dalam nuansa dingin. Hanya bunyi binatang penggerek atau kecoa tanah
yang merengkuh di telinga. Lembah ini paling dalam, di perut bumi Cendrawasih,
tersembunyi tak tersentuh sama sekali. Letaknya entah di distrik atau kabupaten
apa, kurang jelas ku pahami karena kabut yang memangkas jarak pandang. Mungkin
arah paling timur negeri ini, ratusan kilometer dari Jayapura. Mungkin juga
tidak terlalu jauh dari Papua Nugini. Di situlah aku kini tersungkur tak
berdaya.
Kulihat tubuhku remuk, badan sakit
semua, terasa remuk redam. Aku melihat ke bawah, darah berlumuran dari pangkal
paha hingga ke kaki. Sakit sekali, kaki saja tidak bisa di gerakkan.
Perlahan-lahan ku pandang sekeliling, tidak ada tanda-tanda kehidupan. Hancur
Berantakan dimana-mana. Ya, semua serba berantakan, serba hancur, puing demi
puing berantakan dan sebagian tergantung di dahan-dahan kayu.
Hanya ada baling-baling panjang yang
ringsek dan tergolek ditanah yang mungkin bisa menjadi tanda TIM SAR dalam
pencarian kami. Ya, helikopter yang kami tumpangi dari Jayapura itu, helikopter
milik TNI AU jenis super PUMA SA330, tak berdaya melawan kabut kelam dan
ganasnya cuaca di pedalaman Papua ini. Setelah didera kabut pekat dan terjangan
angin badai, heli bernomor registrasi H3XXX yang sudah tua itu oleng dan hilang
kendali. Pilot masih sempat melakukan kontak beberapa waktu lalu dengan
Jayapura. Namun setelah itu terputus sama sekali.
Pilot dan Co-Pilot heli,
masing-masing Mayor Pnb. Herry dan Lettu Pnb. Gilang, sudah tak bernyawa.
Keadaan tubuh mereka lebih parah dari aku. Herry tubuhnya tergeletak dengan
posisi tertelungkup. Kepalanya remuk dan sebuah besi panjang menancap didadanya
sehingga menembus ke belakang. Lebih parah lagi Gilang. Tubuhnya nyaris sama
sekali tidak dapat dikenali, terpotong, terpisah-pisah akibat diterjang
baling-baling heli. Ah, sungguh aku tak bisa menceritakan keadaanya, sangat
mengenaskan. Ya aku ingat sewaktu heli oleng tubuhnya terbanting keluar dan
langsung ditebas baling-baling
Sementara dua orang temanku yang
sama-sama ditempatkan di pos pengintaian Arso, Serka Budi dan Serka Dicky
jenazah mereka tergantung diatas pohon dengan kondisi miris dan tak lagi
bernyawa. Hanya bunyi gemericik suara radio HT yang mematahkan daun-daun.
Kadang suara itu menyatu dengan gemericik hujan dan semilir angin yang tersasar
di sela-sela kayu.
Dari jauh tubuhku seperti melayang
menuju ke rumahku. Waktu seperti diputar balik, aku kembali ke masa silam. Aku
melihat Ayah dan Ibuku tengah menggendongku. Aku ditimangnya, mereka bahagia
akan kelahiranku. Tak terasa tiba-tiba saja aku sudah berada di Asrama Secaba
di Padang Panjang. Aku bercanda dengan sahabatku si Letnan Samson alias Ramses.
Ia berasal dari Medan. Tak lama setelah itu gelap bertahta. Tiba-tiba saja aku
terbangun dan mendapati Ramses tengah duduk disampingku.
“apa yang terjadi?”, tanyaku
“tenanglah. Lukamu belum sembuh”
Aku memandang sekeliling. Kain putih
panjang nampak menggantung di hadapanku. Ya, rumah sakit. Tentu sekarang aku
sedang berada di rumah sakit. Kurasakan kakiku berdenyut-denyut, perih, lebam.
Disekitar wajahku banyak luka goresan. Tangan kiriku dibalut perban.
“siapa saja yang selamat?”, Ramses
tertunduk lesu mendengar pertanyaanku. Matanya sendu menatapku. “sudahlah,
jangan terlalu banyak bertanya. Istirahatlah yang banyak. Tubuhmu butuh
pemulihan panjang”, setelah itu ia tersenyum kecil.
***
Penghujung tahun yang sendu. Hujan
mengelupas dari langit begitu menderas, menggila menyetubuhi bumi dengan segala
rintiknya. Di pengunjung Desember yang dingin dan sembab semuanya berubah
menjadi mendung berat dan menggugurkan bayi-bayi gerimis. Hujan membuat
garis-garis langit seperti renda-renda putih yang semakin kabur di ujung timur.
Garis-garis air itu kadang berubah haluan dibawa angin yang semakin terpukul.
Ya, hujan menaburkan harapan
kehidupan dan kelembapan dihutan Tropis. Berbagai macam bibit kehidupan jatuh
dari langit kelam yang penuh kabut. Hujan memelihara bibit demi bibit itu untuk
hidup dan menebarkannya di pesona bumi hijau di wilayah Pulau Papua ini, di
Keerom wilayah paling ujung NKRI ini. Hujan juga menyapa lembut setiap
permukaan bumi. Dari sejauh mata memandang hanya pohon-pohon raksasa yang tiada
pernah ku jumpai di tanah asalku Jawa Tengah.
Disinilah, dihutan ini, di wilayah timur
ini, pohon-pohon itu menjadi hantu legam, diam seperti merenung dalam kesepian.
Di sini semuanya seperti membeku, menyambut ke angkasa, terparangah membelah
langit bagai tiang-tiang dari perut bumi yang menjulang menusuk langit. Delapan
bulan yang lalu aku dihempaskan perjalanan nasib ke sini. Ya, hitungan waktu,
tak terasa sudah memasuki bulan ke delapan aku di sini, di ujung wilayah tapal
batas di distrik Arso Timur, Kabupaten Keerom Papua, antara NKRI dengan wilayah
Negara Papua Nugini. Di sini orang-orang fasih berbahasa Nugini, Bahasa Indonesia,
atau bahasa suku setempat. Kadang sulit membedakan mana orang Indonesia atau
yang mana orang Nugini
Semua serba campur aduk, inikah
kehidupan di tapal batas itu? Jauh dari hiruk pikuk kota raya. Warga sekitar
perbatasan sering melintas tanpa dokumen. Itu sudah perjalanan tradisi, mereka
tidak pernah bawa surat-surat. Batas sebuah negara kadang tidak begitu penting
untuk melangsungkan interaksi kehidupan yang telah berjalan semenjak leluhur
mereka. Mereka tinggal mendiami beberapa daerah dataran tinggi. Pola
pemukimannnya tetap secara kelompok. Dengan penampilan yang ramah.
Adat-istiadat dijalankan secara ketat dengan “pesta babi” sebagai simbolnya.
Ketat dalam memegang janji. Pembalasan dendam merupakan satu tindakan heroisme
dalam mencari keseimbangan sosial melalui “perang suku” yang dapat diibaratkan
sebagai pertandingan atau kompetisi. Mereka termasuk peramu sagu, berkebun,
menangkap ikan di sungai dan berburu dihutan di sekeliling lingkungannya.
Sebagian dari mereka senang
menggembara dalam kelompok kecil. Mereka ada yang mendiami tanah kering, rawa,
payau dan sepanjang dataran rendah aliran sungai. Kadang kehidupan penduduk
yang alami itu seperti mengisyaratkan bahwa mereka sama sekali belum terjamah
oleh pembangunan apalagi kepentingan politis. Mereka masih banyak hidup dibawah
garis kemiskinan, hidup sederhana dan menggantungkan diri pada alam, ironis
memang. Jika dibandingkan dengan Indonesia wilayah barat jelas pembangunan di
sini, di pulau matahari terbit ini begitu berjalan pelan. Padahal pulau ini
sangat memiliki kekayaan alam yang tak terkira dan eksotik. Sementara aku sudah
hampir 90 hari mengisi pos pengintaian tapal batas ini di distrik Arso. Pos ini
hanya ditempati oleh beberapa orang prajurit TNI saja. Sebelumnya, aku menduduki
pos diwilayah distrik Senggi.
Jumlah penduduk di kabupaten ini
tersebar sedikitnya di 50 kampung dengan jumlah penduduk lebih dari 500 ribu
jiwa. Memang prajurit TNI yang bertugas sengaja digilir dan ditukar sebagai
salah satu cara mengusir kebosanan sekaligus untuk melakukan tugas rutin kami
yaitu patroli memastikan tidak terjadi apa-apa di wilayah tugas kami. Inilah
kehidupanku, jauh dari kesan kemewahan, jauh dari kesenangan hidup dan idealnya
hidup jaman sekarang. Hidup ku lalui seakan bagaikan orang yang tengah
bersemedi di kesunyian hutan. Bertemankan malam-malam yang dingin, tiada
makanan enak di sini, cuma santapan sederhana, itu tidak lebih. Tiada hal yang
berbau kemewahan di sini, semua serba apa adanya. Hidup dalam bayang-bayang
kewaspadaan dan rasa kekhawatiran. Di sini antara hidup dan mati tipis sekali
bedanya
Kadang kita bisa aman sewaktu-waktu,
kadang bahaya mengancam dan keadaan bisa berubah buruk. Beberapa waktu lalu pos
Senggi di serang oleh beberapa orang separatis bersenjata. Tiga prajurit TNI
gugur dalam serangan tiba-tiba dipagi buta itu. Padahal mereka baru ditempatkan
beberapa bulan. Disinilah hidup memang harus dijalani, meski terlihat aman,
namun sewaktu-waktu bisa berbalik menjadi sangat berbahaya. Sebagai TNI,
sebagai prajurit mental kami memang sudah dilatih dan di sipakan untuk terjun
dengan medan dan kondisi apapun
Inilah kehidupan seorang tentara,
menjadi prajurit TNI. Kehidupan di tapal batas, inikah cita-citaku? Jujur saja,
mungkin tidak. Awalnya menjadi tentara hanyalah karena aku ingin memenuhi
keinginan dan membahagiakan ayahku saja. Ayahku sangat ingin aku menjadi
tentara, dan untuk itu ia mau melakukan apapun. Seiring perjalanan waktu kini
menjadi tentara sudah menjadi hidupku, dan aku harus mencintai profesi ini dengan
sungguh-sungguh dan sepenuh hati.
Entahlah, kadang beragam kebimbangan
mendera, tapi semua itu sudah aku bulatkan. Karena dari awal mengenakan seragam
ini, hati sudah bertekad siap mati membela tanah pertiwi. Lebih baik pulang
membawa nama daripada gagal menjalankan tugas. Inilah panggilan nuraniku
sekarang menjadi abdi negara, menjadi pahlawan bagi ayahku, bagi keluargaku
atau mungkin bagi anak dan istriku kelak. Kadang kalau dipikir dengan
mengenyampingkan rasa patriot dan rasa cinta akan tanah air ini, rasa-rasanya
tidak impas apa yang kudapat sekarang dengan pengorbanan yang sudah diperbuat
oleh ayah dan ibuku dikampung. Ya, demi melihat anak semata wayangnya gagah
berpakaian loreng dan memakai baret, apapun pasti mereka tebus.
Ya, memajang foto anak mereka yang
tengah berpakaian prajurit di ruang tamu rumah adalah sebuah kebahagiaan yang
luar biasa bagi seorang ayah. Kebahagiaan itu jelas tidak bisa
dibanding-bandingkan dengan harta melimpah sekalipun. Walau pada akhirnya
mereka harus terpaksa berpisah dengan anaknya itu bertahun-tahun lamanya,
karena tugas anaknya kepada negara.
Walau mereka harus siap
sewaktu-waktu anaknya itu gugur sebagai syahid dalam melaksanakan tugas. Aku
masih ingat, tiga hektar kebun kopi milik ayah berikut sembuah sepeda motor
Honda C3 keluaran akhir tahun 70-an ludes terjual. Ya, kebun kopi yang sangat
produktif berbuah itu beserta motor kesayangan ayah terpaksa dijual demi
memasukkan ku ke sekolah calon tentara di kota Padang Panjang. Awalnya aku menolak
karena aku tau dan sadar, Ayah mempertaruhkan segalanya asal aku bisa masuk
sekolah pendidikan tentara
Sesekali dalam masa pendidikan di
barak, aku masih sempat pulang kampung. Ayah membuat peraturan. Kalau pulang
aku harus mengenakan pakaian seragamku. Kadang aku tertawa geli di buatnya.
Tapi sudahlah, nyatanya aku bahagia juga jika ayahku bahagia. Ia akan
menepuk-nepuk pundakku dan tersenyum haru merengkuhku. Rasanya terbayar sudah
jerih payahnya mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk menjadikanku seorang tentara.
“kau tau Lang, ayahku, kakekmu,
pasti akan tenang di alam sana, apalagi kalau tahu cucunya sekarang sudah
melanjutkan jalan hidupnya, menjadi prajurit pembela merah putih, pembela tanah
pertiwi. Aku berjanji padanya, kalau aku punya putra aku akan menjadikannya
seorang tentara. Hutang janjiku sekarang lunas. Arwah kakekmu sebagai syahid
pejuang kemerdekaan pasti akan senang”, ungkap ayah saat itu
Aku tau ayahku, aku tau sejarah
keluargaku. Ayahku adalah seorang veteran pejuang yang bersama kakekku ikut
berjuang membela bangsa ini mengusir penjajah. Kakek ku gugur dalam peperangan
di kota Malang. Ia menghembuskan nafas terakhirnya setelah beberapa peluru
menembus dada kirinya. Ayah tak pernah lelah menceritakan peristiwa heroik itu
setiap menjelang tidur. Mungkin cerita sejarah itu yang menguatkan pilihanku
untuk menjadi seorang tentara.
Tahun-tahun berikutnya aku
dilarutkan dengan masa tugaskku. Aku mulai jarang pulang. Ditahun pertama aku
di tugaskan disebuah pulau terujung di pulau Sumatra, daerah konflik yaitu
Aceh. Dua tahun aku sempat pulang dan kembali mendapatkan tugas di Mentawai.
Tidak selang beberapa lama aku ditarik dan dikirim menjaga perbatasan di
kawasan Nusa Tenggara Timur dan selanjutnya sampai di penghujung timur tanah
pertiwi ini, pulau Papua atau provinsi Irian Jaya
“berangkatlah nak. Ayah bangga
padamu. Ayah dan ibu ikhlas nak, jika sewaktu-waktu hanya namamu yang akan
pulang ke rumah sederhana ini”
Hanya itulah kata-kata yang bisa
ayah ucapkan. Sama sekali ia tidak menangis. Ia sangat tegar dan sama sekali
tiada guratan kesedihan dari wajahnya. Berbeda dengan ibu yang tak kuasa
menahan tangisnya. Itulah terakhir kalinya aku merengkuh tubuh paruh baya.
Semenjak itu aku hanya mendengar suaranya. Terakhir dua bulan silam aku sempat
mengontak ayah di kota Jayapura. Waktu itu ia sempat menanyakan keinginanku
untuk menikah. Oh menikah, ingin sekali aku akan hal itu, menghadirkan kedua
orang tuaku seorang menantu dan seorang jabang bayi yang kelak akan mereka
timang-timang
Tapi lagi-lagi batinku kecut. Gadis
mana mana yang akan tahan memiliki suami seperti aku ini? Sering ditinggal
pergi suaminya. Bisa berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun tak bertemu. Mungkin
juga harus siap-siap menjanda jika sewaktu-waktu suaminya gugur dalam
menjalankan tugas. Ah, aku jadi teringat si Ramses, temanku dari medan. Baru
dua bulan menikah ia harus meninggalkan istrinya. Bahkan anaknya yang saat ini sudah
berumur dua tahun, tak pernah sekalipun ia menggendongnya, cuma mendapatan
kiriman fotonya saja. Ya inilah kehidupan seorang tentara, pengabdian kepada
negara lebih utama. Rasanya aku belum sanggup menitipkan kerinduan pada gadis
manapun. Biarlah nanti aku pertimbangkan hal itu, sebab bila sudah tiba
waktunya tentu aku akan menikah dan mewujudkan mimpi itu.
Sekarang disinilah aku, bergabung
sebagai prajurit TNI dibawah Kodam XVII Cendrawasih, di perut alam Papua ini,
bergumul dengan sap dan pelukan alam dinginnya hutan tropis. Kadang kehidupan
di tapal batas ini sama sekali jauh dari keinginan duniawi dan gemilangan
harta.
***
Pikiranku akan masa lalu buyar saat
Ramses tiba-tiba masuk ke dalam kamar rawat. Ia nampak gagah berpakaian loreng.
Ah, aku jadi rindu ingin memakai seragam itu lagi. Aku rindu ingin patroli
lagi. Aku rindu teman-teman di pos Senggi dan pos Arso. Aku rindu memancing
ikan di sungai bersama warga sekitar. Aku rindu mandi di kali bersama
anak-anak. Aku rindu mengajar secara sukarela saat hari minggu. Aku rindu
perbatasan.
“sepertinya ada yang menganggu
pikiranmu. Ceritakanlah, berbagi denganku”, ucap Ramses seraya membuka
pembicaraan
“ah tidak kawan, aku hanya
merindukan masa-masa pengabdian di tanah Papua”
“hahahaha”, Ramses tertawa mendengar
perkataanku
“apa yang kau tertawakan?”
“kau lucu. Dulu pertama kali tiba di
tapal batas, kau sering mengeluh karena kehidupan disana sangat jauh
tertinggal. Tidak ada listrik, tidak ada kemewahan, sangat sederhana. Lalu
sekarang kau mengatakan kalau kau merindukan tanah Papua, apa yang membuatmu
rindu?”
Aku tersenyum kecil, “banyak sekali
yang ku rindukan. Aku merindukan teman-teman di pos Senggi dan pos Arso. Aku
merindukan keramah-tamahan warga sekitar. Aku juga rindu memancing ikan di
sungai, mandi di kali, berburu musang dihutan, dan yang paling penting aku
merindukan pakaian loreng itu membalut tubuhku”
“kau harus bersabar. Lukamu sangat
parah, butuh waktu yang cukup lama untuk memulihkan luka di sekujur tubuhmu”
“ya aku tau. Tak kusangka Heli Super
Puma buatan Amerika itu tidak kuat menahan terjangan angin badai”
“bagaimana bisa kecelakaan itu
terjadi? Apakah Mayor Harry tidak mengontek Menara pantau saat terjadi
guncangan?”, tanya Ramses antusias
“mayor sempat mengontek menara
pantau. Namun setelah itu kami kehilangan sinyal”
“lalu apa yang terjadi selanjutnya?”
“aku tak bisa mengingatnya dengan
jelas. Kejadian itu berlangsung sangat cepat. Saat itu heli berguncang hebat.
Mayor Harry dan Lettu Gilang telah memerintahkanku, Dicky dan Budi untuk
memasang sabuk pengaman. Tadinya Mayor ingin mendarat darurat di sebuah dataran
tinggi. Namun pendaratan itu gagal karena baling-baling heli terus-menerus
terbawa arus angin badai. Setelah itu heli makin tidak terkendali. Terakhir
kali yang kuingat suara Mayor Herry meneriakkan “Allahu Akbar!!”. Lalu heli
menghantam pohon besar dan masuk ke dalam lembah”
Mata Ramses nampak berkaca-kaca,
sesekali ia menyeka bulir bening di sudut matanya, “ lalu setelah itu apa yang
terjadi?”
“setelah itu aku mendapati diriku
sudah tersungkur tak berdaya disebuah lembah yang kedalamannya mencapai ribuan
meter. Helikopter hancur berantakan, puing-puingnya berserakan dimana-mana.
Lalu aku melihat di sekujur kakiku mengalir darah segar. Aku berpikir jika aku
akan mengalami kelumpuhan, dan akhirnya mimpiku menjadi seorang tentara harus
terhenti sampai disitu. Lalu aku menangis, kulihat sekeliling. Semua
berantakan, benar-benar berantakan. Mayor Herry dan Lettu Gilang sudah tergolek
tak bernyawa. Sementara Serka Budi dan Serka Dicky mayatnya menggelantung di
atas dahan kayu. Saat itu keadaan benar-benar hening. Tak ada satupun suara
yang terdengar. Satu-satunya suara yang terdengar hanya suara gemericik air
tebing dan suara kecoa tanah. Aku berusaha bangkit, aku tidak ingin mati
sia-sia ditempat itu. Tapi aku tak bisa menggerakkan kedua kakiku. Kedua kakiku
seperti tak berfungsi. Tulang-tulangnya remuk redam, hancur. Perasaan takut
mulai menyelimutiku. Dalam diam aku terus berdoa, berharap TIM SAR segera
menemukan kami”
“lantas bagaimana kau bisa bertahan
hidup hingga 1 minggu lamanya tanpa makanan dan minuman?”
“aku meminum air hujan yang terjatuh
dari dahan-dahan kayu, air hujan satu-satunya harapan terakhirku. Berhari-hari
aku tergeletak kaku seperti mayat hidup. Sementara Mayor Harry, Lettu Gilang,
Serka Budi dan Serka Dicky mayatnya sudah hampir membusuk dimakan hewan-hewan
kecil”
“maafkan kami Gilang karena
membiarkanmu menderita. Namun waktu itu kami memang sedikit kesulitan melakukan
pencarian bangkai heli SA330 karena memang saat itu cuaca sedang tidak
bersahabat. Awalnya kami memilih jalur udara, namun cuaca ekstrim membuat kami
mengurunkan niat dan lebih memilih jalur darat untuk melanjutkan pencarian”
“apa kau juga ikut dalam
pencarian?”, tanyaku
“ya kawan, tentu saja. Beberapa
menit setelah menara pantau lose contact dengan heli, komandan segera
memerintahkan beberapa prajurit untuk bersiap dalam proses pencarian. Aku tak
mungkin meninggalkanmu”, Ramses tersenyum sambil menepuk-nepuk pundakku
“lalu bagaimana TIM SAR dan prajurit
gabungan bisa menemukan kami?”
“seorang warga setempat
memberitahukan jika mendengar suara ledakan di dekat lembah. Akhirnya kepala
TIM SAR meminta untuk melakukan penyusuran di sekitar lembah. Setelah lima hari
pencarian, akhirnya kami berhasil menemukan bangkai heli. Saat itu kami
menemukanmu sudah tak sadarkan diri. Sekujur tubuhmu kaku dan dingin, lalu TIM
SAR segera melakukan evakuasi dan membawamu beserta mayat prajurit lainnya ke
rumah sakit”
Aku tersenyum lega. Tuhan mendengar
doaku. Tadinya aku mengira kalau aku akan mati sia-sia di dasar lembah. Mati
kedinginan atau mungkin mati karena di
makan hewan buas. “Ramses, kau tau? Saat tak sadarkan diri aku seperti bermimpi
kembali ke masa silam. Aku melihat Ayah dan Ibuku sedang menggendongku. Lalu
lama-kelamaan aku mulai beranjak dewasa. Akhirnya aku memasuki sekolah
pendidikan tentara di Padang Panjang. Lalu orang tuaku terlihat sangat bahagia
dan bangga melihatku berpakaian loreng. Sungguh mimpi yang sangat indah”
Rames tersenyum kecil, “kau
merindukan kedua orang tuamu?”
Aku mengangguk pelan. Tak bisa ku
pungkiri betapa besarnya rasa kerinduan yang terpendam akan sosok paruh baya
yang dulu selalu menimangku saat aku masih kecil.
“bersabarlah, kedua orang tua sedang
dalam perjalanan menuju ke sini. Untuk sementara jika kau membutuhkan sesuatu, katakan saja
padaku”
“terima kasih Ramses. Kau memang
sahabat terbaik”
***
Waktu terus bergulir. Setelah
menghabiskan waktu dua bulan di dalam rumah sakit, akhirnya dokter
mengizinkanku pulang ke rumah. Aku kembali menginjak tanah kelahiran. Kembali
berkumpul bersama kedua Orang tua yang sangat ku cintai.
“kau prajurit yang tangguh nak, ayah
bangga padamu”. Ayah memeluk tubuhku dengan erat, matanya nampak berkaca-kaca
menahan tangis
“ayah kenapa menangis?”, tanyaku
“tidak nak. Hanya saja ayah merasa
menyesal karena telah memaksamu menjadi seorang prajurit. Karena menuruti
keinginan ayah, kau harus mengalami kecelakaan Super Puma. Kau hampir saja
kehilangan nyawamu”
“tidak ayah, jangan berkata seperti
itu. Aku menjadi seorang tentara bukan sepenuhnya karena keinginanmu, tapi
karena memang sudah menjadi tugas dan kewajibanku untuk menjaga kedaulatan
NKRI. Aku mencintai profesi ini”
Ayah tersenyum sendu mendengar
ucapanku. Air matanya makin mengalir deras. “sekarang lihatlah kakimu nak.
Apakah kau bisa melanjutkan karirmu sebagai tentara dengan kaki seperti itu?
ini semua salah ayah. Maafkan ayah”
“ayah sudahlah, jangan menangis.
Ayah tidak perlu menyalahkan diri sendiri. Semua ini sudah ditakdirkan oleh
Tuhan. Lagipula aku tak mengalami kelumpuhan. Jika aku giat berlatih jalan,
tentu kakiku akan pulih kembali dan aku bisa melanjutkan tugasku menjaga NKRI”
Ayah kembali memelukmu sembari
berbisik, “ayah menyayangimu, prajurit”
***
Lima bulan kemudian ..
Aku
kembali menyeruput kopi panas di ruang pengintaian, tentunya bersama sahabat
terbaikku, Ramses. Mataku menyapu pohon-pohon raksasa hijau yang mengerubungi
pos pengintaian. Dari kejauhan, nampak mendung dan hawa dingin menusuk-nusuk
dinding menara pengintaian ini. Bendera merah putih yang tertancap di puncak
menara nampak berkibar megah dan berwibawa di terpa angin dan hujan yang
semakin lama semakin bercucuran membasahi bumi Cendrawasih
“aku
tak menyangka bisa kembali duduk di sini bersamamu”, ucap Ramses
“begitupun
aku, Tuhan telah memberi kesempatan kedua untukku”
“apa
trauma kecelakaan heli masih terbayang?”, tanya Ramses seolah menyambung
pembicaraan
“ya
Ramses, masih terekam rapi dalam ingatanku. Terutama teriakan Mayor Harry yang
mengucapkan “Allahu Akbar” sebelum Super Puma itu terjatuh”
“lantas,
setelah kecelakaan itu terjadi apakah kau masih belum kapok menjadi seorang
prajurit?”
Aku tersenyum kecil mendengar
pertanyaan Ramses. “kau tau, banyak alasan yang
memaksaku menjadi seorang tentara. Yang salah satunya yaitu karena rasa
cintaku pada tanah pertiwi. Meski kadang bahaya menghantam, meski kadang jauh
dari orang-orang yang kusayangi, meski kadang hidup terasing di wilayah tapal
batas, dan yang paling penting meski semuanya harus berakhir di ujung peluru
dan aku hanya dapat membayangkan satu persatu wajah orang-orang yang ku cintai,
sebelum semuanya menjadi kabur dan gelap, dan tiba-tiba saja orang-orang yang
ku cintai hanya mengenang namaku, atau paling mujur melihat dan menyaksikan
proses pemakamanku, sementara aku sudah terbujur kaku di peti dengan balutan
sang merah putih. Orang-orang yang melayat menawarkan wajah kesedihan dan
beberapa dentuman senapan dan derap sepatu laras menyertai detik-detik
kepergianku ke tempat peristirahatan terakhir, sesudah itu aku tamat, berakhir,
tak berarti apa-apa dan tentu tidak dicatat dalam sejarah. Kau tau? Meskipun
semua itu terjadi, aku tetap mencintai profesi ini dengan sepenuh hati”