Selasa, 06 Oktober 2015

PENGABDIAN


               Hujan semakin menjadi-jadi. Petir menggila menebarkan lidah api menjilat-jilat ke beberapa pohon. Suaranya bergemuruh hebat menyentakkan setiap indra pendengaran makhluk hidup. Seekor elang lembah yang kedinginan berusaha menyelipkan tubuhnya disebuh lubang kayu, menghindar dari guyuran hujan yang tak kenal ampun. Sesekali terdengar lolongan anjing hutan yang semakin mengigilkan, semakin menyesakkan bulu roma dan menebarkan hawa ketakutan. Angin dingin yang membekukan kalbu, menusuk-nusuk ke tulang, menembus menyesakkan dahan-dahan.
            Hutan ini begitu perawan, gelap sepi, di dasar lembah yang paling dalam. Hanya ada gemericik air jatuh di bibir tebing. Hujan yang mengibas-ngibas di ujung-ujung kayu mengubah semua menjadi temaram dalam nuansa dingin. Hanya bunyi binatang penggerek atau kecoa tanah yang merengkuh di telinga. Lembah ini paling dalam, di perut bumi Cendrawasih, tersembunyi tak tersentuh sama sekali. Letaknya entah di distrik atau kabupaten apa, kurang jelas ku pahami karena kabut yang memangkas jarak pandang. Mungkin arah paling timur negeri ini, ratusan kilometer dari Jayapura. Mungkin juga tidak terlalu jauh dari Papua Nugini. Di situlah aku kini tersungkur tak berdaya.
            Kulihat tubuhku remuk, badan sakit semua, terasa remuk redam. Aku melihat ke bawah, darah berlumuran dari pangkal paha hingga ke kaki. Sakit sekali, kaki saja tidak bisa di gerakkan. Perlahan-lahan ku pandang sekeliling, tidak ada tanda-tanda kehidupan. Hancur Berantakan dimana-mana. Ya, semua serba berantakan, serba hancur, puing demi puing berantakan dan sebagian tergantung di dahan-dahan kayu.
            Hanya ada baling-baling panjang yang ringsek dan tergolek ditanah yang mungkin bisa menjadi tanda TIM SAR dalam pencarian kami. Ya, helikopter yang kami tumpangi dari Jayapura itu, helikopter milik TNI AU jenis super PUMA SA330, tak berdaya melawan kabut kelam dan ganasnya cuaca di pedalaman Papua ini. Setelah didera kabut pekat dan terjangan angin badai, heli bernomor registrasi H3XXX yang sudah tua itu oleng dan hilang kendali. Pilot masih sempat melakukan kontak beberapa waktu lalu dengan Jayapura. Namun setelah itu terputus sama sekali.
            Pilot dan Co-Pilot heli, masing-masing Mayor Pnb. Herry dan Lettu Pnb. Gilang, sudah tak bernyawa. Keadaan tubuh mereka lebih parah dari aku. Herry tubuhnya tergeletak dengan posisi tertelungkup. Kepalanya remuk dan sebuah besi panjang menancap didadanya sehingga menembus ke belakang. Lebih parah lagi Gilang. Tubuhnya nyaris sama sekali tidak dapat dikenali, terpotong, terpisah-pisah akibat diterjang baling-baling heli. Ah, sungguh aku tak bisa menceritakan keadaanya, sangat mengenaskan. Ya aku ingat sewaktu heli oleng tubuhnya terbanting keluar dan langsung ditebas baling-baling
            Sementara dua orang temanku yang sama-sama ditempatkan di pos pengintaian Arso, Serka Budi dan Serka Dicky jenazah mereka tergantung diatas pohon dengan kondisi miris dan tak lagi bernyawa. Hanya bunyi gemericik suara radio HT yang mematahkan daun-daun. Kadang suara itu menyatu dengan gemericik hujan dan semilir angin yang tersasar di sela-sela kayu.
            Dari jauh tubuhku seperti melayang menuju ke rumahku. Waktu seperti diputar balik, aku kembali ke masa silam. Aku melihat Ayah dan Ibuku tengah menggendongku. Aku ditimangnya, mereka bahagia akan kelahiranku. Tak terasa tiba-tiba saja aku sudah berada di Asrama Secaba di Padang Panjang. Aku bercanda dengan sahabatku si Letnan Samson alias Ramses. Ia berasal dari Medan. Tak lama setelah itu gelap bertahta. Tiba-tiba saja aku terbangun dan mendapati Ramses tengah duduk disampingku.
            “apa yang terjadi?”, tanyaku
            “tenanglah. Lukamu belum sembuh”
            Aku memandang sekeliling. Kain putih panjang nampak menggantung di hadapanku. Ya, rumah sakit. Tentu sekarang aku sedang berada di rumah sakit. Kurasakan kakiku berdenyut-denyut, perih, lebam. Disekitar wajahku banyak luka goresan. Tangan kiriku dibalut perban.
            “siapa saja yang selamat?”, Ramses tertunduk lesu mendengar pertanyaanku. Matanya sendu menatapku. “sudahlah, jangan terlalu banyak bertanya. Istirahatlah yang banyak. Tubuhmu butuh pemulihan panjang”, setelah itu ia tersenyum kecil. 

*** 

            Penghujung tahun yang sendu. Hujan mengelupas dari langit begitu menderas, menggila menyetubuhi bumi dengan segala rintiknya. Di pengunjung Desember yang dingin dan sembab semuanya berubah menjadi mendung berat dan menggugurkan bayi-bayi gerimis. Hujan membuat garis-garis langit seperti renda-renda putih yang semakin kabur di ujung timur. Garis-garis air itu kadang berubah haluan dibawa angin yang semakin terpukul.
            Ya, hujan menaburkan harapan kehidupan dan kelembapan dihutan Tropis. Berbagai macam bibit kehidupan jatuh dari langit kelam yang penuh kabut. Hujan memelihara bibit demi bibit itu untuk hidup dan menebarkannya di pesona bumi hijau di wilayah Pulau Papua ini, di Keerom wilayah paling ujung NKRI ini. Hujan juga menyapa lembut setiap permukaan bumi. Dari sejauh mata memandang hanya pohon-pohon raksasa yang tiada pernah ku jumpai di tanah asalku Jawa Tengah.
            Disinilah, dihutan ini, di wilayah timur ini, pohon-pohon itu menjadi hantu legam, diam seperti merenung dalam kesepian. Di sini semuanya seperti membeku, menyambut ke angkasa, terparangah membelah langit bagai tiang-tiang dari perut bumi yang menjulang menusuk langit. Delapan bulan yang lalu aku dihempaskan perjalanan nasib ke sini. Ya, hitungan waktu, tak terasa sudah memasuki bulan ke delapan aku di sini, di ujung wilayah tapal batas di distrik Arso Timur, Kabupaten Keerom Papua, antara NKRI dengan wilayah Negara Papua Nugini. Di sini orang-orang fasih berbahasa Nugini, Bahasa Indonesia, atau bahasa suku setempat. Kadang sulit membedakan mana orang Indonesia atau yang mana orang Nugini
            Semua serba campur aduk, inikah kehidupan di tapal batas itu? Jauh dari hiruk pikuk kota raya. Warga sekitar perbatasan sering melintas tanpa dokumen. Itu sudah perjalanan tradisi, mereka tidak pernah bawa surat-surat. Batas sebuah negara kadang tidak begitu penting untuk melangsungkan interaksi kehidupan yang telah berjalan semenjak leluhur mereka. Mereka tinggal mendiami beberapa daerah dataran tinggi. Pola pemukimannnya tetap secara kelompok. Dengan penampilan yang ramah. Adat-istiadat dijalankan secara ketat dengan “pesta babi” sebagai simbolnya. Ketat dalam memegang janji. Pembalasan dendam merupakan satu tindakan heroisme dalam mencari keseimbangan sosial melalui “perang suku” yang dapat diibaratkan sebagai pertandingan atau kompetisi. Mereka termasuk peramu sagu, berkebun, menangkap ikan di sungai dan berburu dihutan di sekeliling lingkungannya.
            Sebagian dari mereka senang menggembara dalam kelompok kecil. Mereka ada yang mendiami tanah kering, rawa, payau dan sepanjang dataran rendah aliran sungai. Kadang kehidupan penduduk yang alami itu seperti mengisyaratkan bahwa mereka sama sekali belum terjamah oleh pembangunan apalagi kepentingan politis. Mereka masih banyak hidup dibawah garis kemiskinan, hidup sederhana dan menggantungkan diri pada alam, ironis memang. Jika dibandingkan dengan Indonesia wilayah barat jelas pembangunan di sini, di pulau matahari terbit ini begitu berjalan pelan. Padahal pulau ini sangat memiliki kekayaan alam yang tak terkira dan eksotik. Sementara aku sudah hampir 90 hari mengisi pos pengintaian tapal batas ini di distrik Arso. Pos ini hanya ditempati oleh beberapa orang prajurit TNI saja. Sebelumnya, aku menduduki pos diwilayah distrik Senggi.
            Jumlah penduduk di kabupaten ini tersebar sedikitnya di 50 kampung dengan jumlah penduduk lebih dari 500 ribu jiwa. Memang prajurit TNI yang bertugas sengaja digilir dan ditukar sebagai salah satu cara mengusir kebosanan sekaligus untuk melakukan tugas rutin kami yaitu patroli memastikan tidak terjadi apa-apa di wilayah tugas kami. Inilah kehidupanku, jauh dari kesan kemewahan, jauh dari kesenangan hidup dan idealnya hidup jaman sekarang. Hidup ku lalui seakan bagaikan orang yang tengah bersemedi di kesunyian hutan. Bertemankan malam-malam yang dingin, tiada makanan enak di sini, cuma santapan sederhana, itu tidak lebih. Tiada hal yang berbau kemewahan di sini, semua serba apa adanya. Hidup dalam bayang-bayang kewaspadaan dan rasa kekhawatiran. Di sini antara hidup dan mati tipis sekali bedanya
            Kadang kita bisa aman sewaktu-waktu, kadang bahaya mengancam dan keadaan bisa berubah buruk. Beberapa waktu lalu pos Senggi di serang oleh beberapa orang separatis bersenjata. Tiga prajurit TNI gugur dalam serangan tiba-tiba dipagi buta itu. Padahal mereka baru ditempatkan beberapa bulan. Disinilah hidup memang harus dijalani, meski terlihat aman, namun sewaktu-waktu bisa berbalik menjadi sangat berbahaya. Sebagai TNI, sebagai prajurit mental kami memang sudah dilatih dan di sipakan untuk terjun dengan medan dan kondisi apapun
            Inilah kehidupan seorang tentara, menjadi prajurit TNI. Kehidupan di tapal batas, inikah cita-citaku? Jujur saja, mungkin tidak. Awalnya menjadi tentara hanyalah karena aku ingin memenuhi keinginan dan membahagiakan ayahku saja. Ayahku sangat ingin aku menjadi tentara, dan untuk itu ia mau melakukan apapun. Seiring perjalanan waktu kini menjadi tentara sudah menjadi hidupku, dan aku harus mencintai profesi ini dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati.
            Entahlah, kadang beragam kebimbangan mendera, tapi semua itu sudah aku bulatkan. Karena dari awal mengenakan seragam ini, hati sudah bertekad siap mati membela tanah pertiwi. Lebih baik pulang membawa nama daripada gagal menjalankan tugas. Inilah panggilan nuraniku sekarang menjadi abdi negara, menjadi pahlawan bagi ayahku, bagi keluargaku atau mungkin bagi anak dan istriku kelak. Kadang kalau dipikir dengan mengenyampingkan rasa patriot dan rasa cinta akan tanah air ini, rasa-rasanya tidak impas apa yang kudapat sekarang dengan pengorbanan yang sudah diperbuat oleh ayah dan ibuku dikampung. Ya, demi melihat anak semata wayangnya gagah berpakaian loreng dan memakai baret, apapun pasti mereka tebus.
            Ya, memajang foto anak mereka yang tengah berpakaian prajurit di ruang tamu rumah adalah sebuah kebahagiaan yang luar biasa bagi seorang ayah. Kebahagiaan itu jelas tidak bisa dibanding-bandingkan dengan harta melimpah sekalipun. Walau pada akhirnya mereka harus terpaksa berpisah dengan anaknya itu bertahun-tahun lamanya, karena tugas anaknya kepada negara.
            Walau mereka harus siap sewaktu-waktu anaknya itu gugur sebagai syahid dalam melaksanakan tugas. Aku masih ingat, tiga hektar kebun kopi milik ayah berikut sembuah sepeda motor Honda C3 keluaran akhir tahun 70-an ludes terjual. Ya, kebun kopi yang sangat produktif berbuah itu beserta motor kesayangan ayah terpaksa dijual demi memasukkan ku ke sekolah calon tentara di kota Padang Panjang. Awalnya aku menolak karena aku tau dan sadar, Ayah mempertaruhkan segalanya asal aku bisa masuk sekolah pendidikan tentara
            Sesekali dalam masa pendidikan di barak, aku masih sempat pulang kampung. Ayah membuat peraturan. Kalau pulang aku harus mengenakan pakaian seragamku. Kadang aku tertawa geli di buatnya. Tapi sudahlah, nyatanya aku bahagia juga jika ayahku bahagia. Ia akan menepuk-nepuk pundakku dan tersenyum haru merengkuhku. Rasanya terbayar sudah jerih payahnya mengeluarkan uang yang tidak sedikit  untuk menjadikanku seorang tentara.
            “kau tau Lang, ayahku, kakekmu, pasti akan tenang di alam sana, apalagi kalau tahu cucunya sekarang sudah melanjutkan jalan hidupnya, menjadi prajurit pembela merah putih, pembela tanah pertiwi. Aku berjanji padanya, kalau aku punya putra aku akan menjadikannya seorang tentara. Hutang janjiku sekarang lunas. Arwah kakekmu sebagai syahid pejuang kemerdekaan pasti akan senang”, ungkap ayah saat itu
            Aku tau ayahku, aku tau sejarah keluargaku. Ayahku adalah seorang veteran pejuang yang bersama kakekku ikut berjuang membela bangsa ini mengusir penjajah. Kakek ku gugur dalam peperangan di kota Malang. Ia menghembuskan nafas terakhirnya setelah beberapa peluru menembus dada kirinya. Ayah tak pernah lelah menceritakan peristiwa heroik itu setiap menjelang tidur. Mungkin cerita sejarah itu yang menguatkan pilihanku untuk menjadi seorang tentara.
            Tahun-tahun berikutnya aku dilarutkan dengan masa tugaskku. Aku mulai jarang pulang. Ditahun pertama aku di tugaskan disebuah pulau terujung di pulau Sumatra, daerah konflik yaitu Aceh. Dua tahun aku sempat pulang dan kembali mendapatkan tugas di Mentawai. Tidak selang beberapa lama aku ditarik dan dikirim menjaga perbatasan di kawasan Nusa Tenggara Timur dan selanjutnya sampai di penghujung timur tanah pertiwi ini, pulau Papua atau provinsi Irian Jaya
            “berangkatlah nak. Ayah bangga padamu. Ayah dan ibu ikhlas nak, jika sewaktu-waktu hanya namamu yang akan pulang ke rumah sederhana ini”
            Hanya itulah kata-kata yang bisa ayah ucapkan. Sama sekali ia tidak menangis. Ia sangat tegar dan sama sekali tiada guratan kesedihan dari wajahnya. Berbeda dengan ibu yang tak kuasa menahan tangisnya. Itulah terakhir kalinya aku merengkuh tubuh paruh baya. Semenjak itu aku hanya mendengar suaranya. Terakhir dua bulan silam aku sempat mengontak ayah di kota Jayapura. Waktu itu ia sempat menanyakan keinginanku untuk menikah. Oh menikah, ingin sekali aku akan hal itu, menghadirkan kedua orang tuaku seorang menantu dan seorang jabang bayi yang kelak akan mereka timang-timang
            Tapi lagi-lagi batinku kecut. Gadis mana mana yang akan tahan memiliki suami seperti aku ini? Sering ditinggal pergi suaminya. Bisa berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun tak bertemu. Mungkin juga harus siap-siap menjanda jika sewaktu-waktu suaminya gugur dalam menjalankan tugas. Ah, aku jadi teringat si Ramses, temanku dari medan. Baru dua bulan menikah ia harus meninggalkan istrinya. Bahkan anaknya yang saat ini sudah berumur dua tahun, tak pernah sekalipun ia menggendongnya, cuma mendapatan kiriman fotonya saja. Ya inilah kehidupan seorang tentara, pengabdian kepada negara lebih utama. Rasanya aku belum sanggup menitipkan kerinduan pada gadis manapun. Biarlah nanti aku pertimbangkan hal itu, sebab bila sudah tiba waktunya tentu aku akan menikah dan mewujudkan mimpi itu.
            Sekarang disinilah aku, bergabung sebagai prajurit TNI dibawah Kodam XVII Cendrawasih, di perut alam Papua ini, bergumul dengan sap dan pelukan alam dinginnya hutan tropis. Kadang kehidupan di tapal batas ini sama sekali jauh dari keinginan duniawi dan gemilangan harta.
***

            Pikiranku akan masa lalu buyar saat Ramses tiba-tiba masuk ke dalam kamar rawat. Ia nampak gagah berpakaian loreng. Ah, aku jadi rindu ingin memakai seragam itu lagi. Aku rindu ingin patroli lagi. Aku rindu teman-teman di pos Senggi dan pos Arso. Aku rindu memancing ikan di sungai bersama warga sekitar. Aku rindu mandi di kali bersama anak-anak. Aku rindu mengajar secara sukarela saat hari minggu. Aku rindu perbatasan.
            “sepertinya ada yang menganggu pikiranmu. Ceritakanlah, berbagi denganku”, ucap Ramses seraya membuka pembicaraan
            “ah tidak kawan, aku hanya merindukan masa-masa pengabdian di tanah Papua”
            “hahahaha”, Ramses tertawa mendengar perkataanku
            “apa yang kau tertawakan?”
            “kau lucu. Dulu pertama kali tiba di tapal batas, kau sering mengeluh karena kehidupan disana sangat jauh tertinggal. Tidak ada listrik, tidak ada kemewahan, sangat sederhana. Lalu sekarang kau mengatakan kalau kau merindukan tanah Papua, apa yang membuatmu rindu?”
            Aku tersenyum kecil, “banyak sekali yang ku rindukan. Aku merindukan teman-teman di pos Senggi dan pos Arso. Aku merindukan keramah-tamahan warga sekitar. Aku juga rindu memancing ikan di sungai, mandi di kali, berburu musang dihutan, dan yang paling penting aku merindukan pakaian loreng itu membalut tubuhku”
            “kau harus bersabar. Lukamu sangat parah, butuh waktu yang cukup lama untuk memulihkan luka di sekujur tubuhmu”
            “ya aku tau. Tak kusangka Heli Super Puma buatan Amerika itu tidak kuat menahan terjangan angin badai”
            “bagaimana bisa kecelakaan itu terjadi? Apakah Mayor Harry tidak mengontek Menara pantau saat terjadi guncangan?”, tanya Ramses antusias
            “mayor sempat mengontek menara pantau. Namun setelah itu kami kehilangan sinyal”
            “lalu apa yang terjadi selanjutnya?”
            “aku tak bisa mengingatnya dengan jelas. Kejadian itu berlangsung sangat cepat. Saat itu heli berguncang hebat. Mayor Harry dan Lettu Gilang telah memerintahkanku, Dicky dan Budi untuk memasang sabuk pengaman. Tadinya Mayor ingin mendarat darurat di sebuah dataran tinggi. Namun pendaratan itu gagal karena baling-baling heli terus-menerus terbawa arus angin badai. Setelah itu heli makin tidak terkendali. Terakhir kali yang kuingat suara Mayor Herry meneriakkan “Allahu Akbar!!”. Lalu heli menghantam pohon besar dan masuk ke dalam lembah”
            Mata Ramses nampak berkaca-kaca, sesekali ia menyeka bulir bening di sudut matanya, “ lalu setelah itu apa yang terjadi?”
            “setelah itu aku mendapati diriku sudah tersungkur tak berdaya disebuah lembah yang kedalamannya mencapai ribuan meter. Helikopter hancur berantakan, puing-puingnya berserakan dimana-mana. Lalu aku melihat di sekujur kakiku mengalir darah segar. Aku berpikir jika aku akan mengalami kelumpuhan, dan akhirnya mimpiku menjadi seorang tentara harus terhenti sampai disitu. Lalu aku menangis, kulihat sekeliling. Semua berantakan, benar-benar berantakan. Mayor Herry dan Lettu Gilang sudah tergolek tak bernyawa. Sementara Serka Budi dan Serka Dicky mayatnya menggelantung di atas dahan kayu. Saat itu keadaan benar-benar hening. Tak ada satupun suara yang terdengar. Satu-satunya suara yang terdengar hanya suara gemericik air tebing dan suara kecoa tanah. Aku berusaha bangkit, aku tidak ingin mati sia-sia ditempat itu. Tapi aku tak bisa menggerakkan kedua kakiku. Kedua kakiku seperti tak berfungsi. Tulang-tulangnya remuk redam, hancur. Perasaan takut mulai menyelimutiku. Dalam diam aku terus berdoa, berharap TIM SAR segera menemukan kami”
            “lantas bagaimana kau bisa bertahan hidup hingga 1 minggu lamanya tanpa makanan dan minuman?”
            “aku meminum air hujan yang terjatuh dari dahan-dahan kayu, air hujan satu-satunya harapan terakhirku. Berhari-hari aku tergeletak kaku seperti mayat hidup. Sementara Mayor Harry, Lettu Gilang, Serka Budi dan Serka Dicky mayatnya sudah hampir membusuk dimakan hewan-hewan kecil”
            “maafkan kami Gilang karena membiarkanmu menderita. Namun waktu itu kami memang sedikit kesulitan melakukan pencarian bangkai heli SA330 karena memang saat itu cuaca sedang tidak bersahabat. Awalnya kami memilih jalur udara, namun cuaca ekstrim membuat kami mengurunkan niat dan lebih memilih jalur darat untuk melanjutkan pencarian”
            “apa kau juga ikut dalam pencarian?”, tanyaku
            “ya kawan, tentu saja. Beberapa menit setelah menara pantau lose contact dengan heli, komandan segera memerintahkan beberapa prajurit untuk bersiap dalam proses pencarian. Aku tak mungkin meninggalkanmu”, Ramses tersenyum sambil menepuk-nepuk pundakku
            “lalu bagaimana TIM SAR dan prajurit gabungan bisa menemukan kami?”
            “seorang warga setempat memberitahukan jika mendengar suara ledakan di dekat lembah. Akhirnya kepala TIM SAR meminta untuk melakukan penyusuran di sekitar lembah. Setelah lima hari pencarian, akhirnya kami berhasil menemukan bangkai heli. Saat itu kami menemukanmu sudah tak sadarkan diri. Sekujur tubuhmu kaku dan dingin, lalu TIM SAR segera melakukan evakuasi dan membawamu beserta mayat prajurit lainnya ke rumah sakit”
            Aku tersenyum lega. Tuhan mendengar doaku. Tadinya aku mengira kalau aku akan mati sia-sia di dasar lembah. Mati kedinginan atau mungkin  mati karena di makan hewan buas. “Ramses, kau tau? Saat tak sadarkan diri aku seperti bermimpi kembali ke masa silam. Aku melihat Ayah dan Ibuku sedang menggendongku. Lalu lama-kelamaan aku mulai beranjak dewasa. Akhirnya aku memasuki sekolah pendidikan tentara di Padang Panjang. Lalu orang tuaku terlihat sangat bahagia dan bangga melihatku berpakaian loreng. Sungguh mimpi yang sangat indah”
            Rames tersenyum kecil, “kau merindukan kedua orang tuamu?”
            Aku mengangguk pelan. Tak bisa ku pungkiri betapa besarnya rasa kerinduan yang terpendam akan sosok paruh baya yang dulu selalu menimangku saat aku masih kecil.
            “bersabarlah, kedua orang tua sedang dalam perjalanan menuju ke sini. Untuk sementara  jika kau membutuhkan sesuatu, katakan saja padaku”
            “terima kasih Ramses. Kau memang sahabat terbaik”

***

            Waktu terus bergulir. Setelah menghabiskan waktu dua bulan di dalam rumah sakit, akhirnya dokter mengizinkanku pulang ke rumah. Aku kembali menginjak tanah kelahiran. Kembali berkumpul bersama kedua Orang tua yang sangat ku cintai.
            “kau prajurit yang tangguh nak, ayah bangga padamu”. Ayah memeluk tubuhku dengan erat, matanya nampak berkaca-kaca menahan tangis
            “ayah kenapa menangis?”, tanyaku
            “tidak nak. Hanya saja ayah merasa menyesal karena telah memaksamu menjadi seorang prajurit. Karena menuruti keinginan ayah, kau harus mengalami kecelakaan Super Puma. Kau hampir saja kehilangan nyawamu”
            “tidak ayah, jangan berkata seperti itu. Aku menjadi seorang tentara bukan sepenuhnya karena keinginanmu, tapi karena memang sudah menjadi tugas dan kewajibanku untuk menjaga kedaulatan NKRI. Aku mencintai profesi ini”
            Ayah tersenyum sendu mendengar ucapanku. Air matanya makin mengalir deras. “sekarang lihatlah kakimu nak. Apakah kau bisa melanjutkan karirmu sebagai tentara dengan kaki seperti itu? ini semua salah ayah. Maafkan ayah”
            “ayah sudahlah, jangan menangis. Ayah tidak perlu menyalahkan diri sendiri. Semua ini sudah ditakdirkan oleh Tuhan. Lagipula aku tak mengalami kelumpuhan. Jika aku giat berlatih jalan, tentu kakiku akan pulih kembali dan aku bisa melanjutkan tugasku menjaga NKRI”
            Ayah kembali memelukmu sembari berbisik, “ayah menyayangimu, prajurit”

***

            Lima bulan kemudian ..
Aku kembali menyeruput kopi panas di ruang pengintaian, tentunya bersama sahabat terbaikku, Ramses. Mataku menyapu pohon-pohon raksasa hijau yang mengerubungi pos pengintaian. Dari kejauhan, nampak mendung dan hawa dingin menusuk-nusuk dinding menara pengintaian ini. Bendera merah putih yang tertancap di puncak menara nampak berkibar megah dan berwibawa di terpa angin dan hujan yang semakin lama semakin bercucuran membasahi bumi Cendrawasih

“aku tak menyangka bisa kembali duduk di sini bersamamu”, ucap Ramses
“begitupun aku, Tuhan telah memberi kesempatan kedua untukku”
“apa trauma kecelakaan heli masih terbayang?”, tanya Ramses seolah menyambung pembicaraan
“ya Ramses, masih terekam rapi dalam ingatanku. Terutama teriakan Mayor Harry yang mengucapkan “Allahu Akbar” sebelum Super Puma itu terjatuh”
“lantas, setelah kecelakaan itu terjadi apakah kau masih belum kapok menjadi seorang prajurit?”
            Aku tersenyum kecil mendengar pertanyaan Ramses. “kau tau, banyak alasan yang  memaksaku menjadi seorang tentara. Yang salah satunya yaitu karena rasa cintaku pada tanah pertiwi. Meski kadang bahaya menghantam, meski kadang jauh dari orang-orang yang kusayangi, meski kadang hidup terasing di wilayah tapal batas, dan yang paling penting meski semuanya harus berakhir di ujung peluru dan aku hanya dapat membayangkan satu persatu wajah orang-orang yang ku cintai, sebelum semuanya menjadi kabur dan gelap, dan tiba-tiba saja orang-orang yang ku cintai hanya mengenang namaku, atau paling mujur melihat dan menyaksikan proses pemakamanku, sementara aku sudah terbujur kaku di peti dengan balutan sang merah putih. Orang-orang yang melayat menawarkan wajah kesedihan dan beberapa dentuman senapan dan derap sepatu laras menyertai detik-detik kepergianku ke tempat peristirahatan terakhir, sesudah itu aku tamat, berakhir, tak berarti apa-apa dan tentu tidak dicatat dalam sejarah. Kau tau? Meskipun semua itu terjadi, aku tetap mencintai profesi ini dengan sepenuh hati”

Tidak ada komentar: