Akira
tersenyum. Mungkin itu adalah saat terakhirnya melihat bunga sakura bermekaran
di Kota kelahirannya, Yokohama. Sebuah kota metropolitan yang merupakan salah
satu pusat pelabuhan dan perdagangan terbesar di Negeri Sakura, Jepang. Karena
tak terasa besok ia akan segera terbang ke Tokyo untuk menjalani serangkaian
kegiatan yang sangat di bencinya seumur hidup
Waktu
berlalu. Saat ini jam telah menunjukkan pukul empat sore. Sebentar lagi Akira
akan segera lepas landas menuju Ibukota Jepang, Tokyo. Berkali-kali ia menoleh
ke kanan dan ke kiri, berharap Minato akan menyusulnya ke bandara sore ini. Namun
harapannya kian pupus saat terdengar suara panggilan penumpang untuk
penerbangan pesawat rute Yokohama-Tokyo yang akan segera lepas landas sepuluh
menit lagi
“Akira,
cepatlah. Kita bisa ketinggalan pesawat nanti”
Ibu
menggandeng tangan Akira memasuki ruang tunggu. Namun Akira masih saja tidak
ingin menggerakan kakinya berpindah dari tempat itu. Ia masih mengharapkan
kedatangan Minato
“apa
lagi yang kau tunggu?”
Ibu
mulai kesal melihat tingkah Akira yang nampak uring-uringan. Padahal ia sudah
bersusah payah menabung uang hingga ratusan juta rupiah demi anak semata wayangnya,
Akira. Bukan hanya itu, bahkan ibu juga telah menjual berbagai perhiasan
peninggalan sang suami yang telah wafat enam tahun silam saat Akira masih
berumur sembilan tahun.
“sebentar
bu, ada seseorang yang harus ku temui”
“tidak
ada waktu lagi Akira. Kita harus segera pergi sebelum ketinggalan pesawat”
Ibu
menarik tangan Akira memasuki ruang tunggu. Nampak gumpalan air mata yang ingin
tertumpah dari mata sipit Akira. Harapannya bertemu dengan Minato untuk yang
terakhir kalinya ternyata musnah begitu saja. Kini ia hanya bisa berharap dan
berdoa agar ia bisa kembali bertemu dengan Minato suatu saat nanti
-----
“minato
tunggu!”. Yui berlari mengejar Minato yang nampak terburu-buru meninggalkan
sekolah.
“ada
apa?”, tanya Minato
“mau
kemana kau? Bukankah kita harus menyiapkan pesta penyambutan musim semi tahun
ini?”
“maaf
Yui. Kali ini aku tak bisa membantumu. Ada hal penting yang harus segera ku
selesaikan”. Jawab Minato singkat, Setelah itu ia segera mengayuh sepedanya
meninggalkan sekolah tanpa berpamitan terlebih dahulu pada Yui. Entah hal
penting apa yang membuatnya sangat tergesa-gesa seperti saat itu.
“ayo
cepattt!!!”
Keringat
bercucuran membasahi wajah Minato. Seragam sekolahnya pun nampak basah terkena
tetes keringat yang berjatuhan dari dahinya. Ia terus mengayuh sepedanya dengan
kencang menuju bandara. Namun usaha kerasnya untuk menemui Akira ternyata tidak
membuahkan hasil. Sesampainya di bandara ia mendapat jawaban miris dari seorang
petugas bandara kalau pesawat rute Yokohama-Tokyo telah lepas landas sekitar
setengah jam yang lalu. Dengan perasaan kecewa Minato terduduk di samping
pilar-pilar bandara.. Ia menangis tersedu-sedu karena tidak bisa menemui Akira
untuk yang terakhir kalinya. Padahal Minato telah berupaya sekuat tenaga agar
bisa sampai di bandara secepat mungkin menggunakan sepeda bututnya. Akan tetapi
peluh yang telah mengaliri sekujur tubuhnya ternyata hanya terbuang sia-sia. Ia
telah kehilangan sesosok sahabat masa kecilnya, Akira. Seorang gadis baik hati
yang telah di kenalnya kurang lebih sepuluh tahun belakangan ini.
----
“akira ... aku merindukanmu”
Berkali-kali
Minato mengucapkan kalimat itu di depan jendela kamarnya sambil memandangi
langit malam yang dihiasi kerlipan bintang-bintang. Sesekali nampak salah satu
bintang itu menghilang di balik pekatnya awan hitam yang menyelimutinya. Semilir
angin yang berhembus tenang makin menambah indah suasana malam itu. Dari
kejauhan juga nampak beberapa dahan pohon yang menari-nari tertiup angin malam
yang sejuk. Namun keindahan malam itu tetap saja tidak bisa mengubah kesedihan
hati Minato saat harus berpisah dengan sahabat masa kecilnya, Akira. Terlebih
lagi saat ia membaca surat terakhir dari Akira yang di tulisnya di atas sebuah
kertas berwarna biru muda, warna yang sangat di sukai oleh Minato
Minato san, hari ini adalah hari
terakhir ku di Yokohoma. Selepas jam tiga sore nanti, pesawatku akan segera
lepas landas menuju Tokyo. Aku harap kau bisa menemui ku di bandara nanti
sepulang sekolah.
Tanpa
sadar Minato mulai meneteskan air matanya. Ia memeluk surat pemberian Akira
dengan erat menggunakan tangan kanannya. Sementara tangan kirinya nampak
mengenggam sebuah buku bersampul hitam yang agak usang. Entah buku apa yang
sedang di genggamnya. Yang jelas ketika buku itu terbuka, seketika itu juga air
mata makin mengalir deras membasahi pipi Minato.
Rupanya
buku itu adalah buku diary milik Minato. Akira memberikan buku itu pada Minato saat mereka masih duduk
di bangku sekolah dasar. Di dalam buku itu terdapat banyak sekali foto Akira
dengan berbagai macam pose. Ternyata selama ini Minato suka memotret Akira secara
diam-diam. Ia sengaja memecahkan celengan babi kesayanganya demi membeli sebuah
handphone berkamera agar ia bisa mengabadikan setiap momen berharga yang telah
ia lewati bersama Akira
Halaman
pertama buku itu terbuka. Di halaman itu terpampang jelas foto Akira yang
sedang tersenyum lebar menatap ke bawah dari atas Landmark Tower yang
berketinggian mencapai 296,3 meter di atas permukaan laut. Di bawah foto itu
bertuliskan “Randomākutawā de ason Akira hajimete” (pertama kalinya bermain dengan Akira di
Landmark Tower)
Di
halaman kedua terpampang foto Akira yang sedang tertidur pulas di kelas sambil
memeluk tas Minato. Tak lupa Minato juga menuliskan sebuah kalimat tepat di
bawah foto yang telah di tempelnya. Kalimat itu bertuliskan “Akira
suimin, watashitoisshoni utsukushī yume” (tidurlah Akira,
mimpilah yang indah bersamaku)
Halaman
ketiga terpampang foto Akira yang sedang mengenggam piala perlombaan membuat
komik manga yang di adakan antar sekolah, “Akira
wa anata ga saidaida, omedetō” (selamat Akira, kau memang yang terhebat)
Begitulah
halaman-halaman seterusnya buku usang itu hingga sampailah jari-jemari Minato
pada halaman akhir. Di halaman akhir terpampang jelas fotonya besama Akira saat
masih duduk di bangku taman kanak-kanak. Mereka berdua nampak bergandengan
tangan dan tersenyum manis di depan kamera. Rupanya sejak saat itulah Minato
mulai menyukai Akira. Dan rasa sukanya makin bertambah besar saat ia dan Akira
tak pernah terpisahkan karna selalu mendaftarkan diri di sekolah yang sama. Tak
lupa Minato juga menuliskan sebuah kalimat layaknya foto-foto lain di
halaman-halaman sebelumnya. Kalimat itu bertuliskan sebuah kalimat harapan yang
hingga kini masih menjadi mimpi dan bayang-bayang bagi Minato, “Ikutsu ka no ten de, watashi wa genzai no yō
ni, futatabi anata no te o nigiru koto ga dekimasu” (suatu saat nati, entah kapan
aku bisa menggengam tanganmu lagi seperti saat ini)
Musim
semi hampir berakhir, membuat perasaan Minato makin bertambah sedih mengingat
ia harus melewati musim semi tahun ini tanpa kehadiran Akira di sampingnya.
Padahal jauh sebelum Akira memiliki rencana mendadak untuk mengikuti lomba
membuat komik manga di Tokyo, ia telah berjanji pada Minato untuk melawati
musim semi tahun ini bersamanya. Bahkan hingga kini Minato masih ingat dengan
jelas apa yang telah di ucapkan Akira padanya saat mereka sedang menaiki sepeda
sepulang sekolah
“aku tak sabar menantikan musim semi.
Tentu sangat menyenangkan jika bisa melihat indahnya bunga sakura bermekaran di
hutan belakang sekolah bersamamu, seperti tahun-tahun sebelumnya”
----
“belakangan
ini aku tak pernah lagi melihat Akira. Kemana dia?”, tanya Yui
“sudah
hampir satu bulan terakhir ia berada di Tokyo untuk mengikuti lomba membuat
komik manga”, jawab Minato
“benarkah?
Wah pasti sangat menyenangkan bisa berada di Tokyo. Apalagi jika bisa melihat
bunga sakura bermekaran di Taman Sumida, betapa indahnya jika kita bisa melihat
ratusan pohon sakura bermekaran di tempat itu”
“emm,
Yui. Jika kau menyukai seseorang, apakah kau akan mengatakan hal itu padanya?”
Tiba-tiba
saja Minato melontarkan sebuah pertanyaan yang sangat melenceng dari topik
awal. Entah apa yang sedang ada di kepalanya saat ini sampai-sampai ia
melontarkan pertanyaan konyol seperti itu pada Yui
“kenapa
kau menanyakan hal semacam itu padaku?”, tanya Yui heran
“aku
hanya ingin tau jawabanmu saja”
“ya,
tentu saja aku akan mengatakan hal itu padanya. Karna aku tak ingin selamanya
menjadi bayang-bayang di balik kehidupannya”
Mendengar
ucapan Yui, nampak senyum lebar merekah dari bibir Minato. “terima kasih Yui.
Sekarang aku tau apa yang harus ku lakukan”
----
Gitar, handphone, PSP, dan beberapa
uang tabungan yang masih tersisa di dalam celengan telah Minato gunakan untuk
membeli tiket pesawat ke Tokyo. Ia ingin menyusul Akira dan menyatakan
perasaanya seperti apa yang telah Yui ucapkan padanya.
Pagi-pagi
sekali saat matahari masih berada di sepenggalan, Minato sudah bersiap-siap
pergi ke bandara karena pesawat yang ia tumpangi akan lepas landas sekitar
pukul tujuh pagi. Ia sengaja mengenakan seragam sekolah agar ayah dan ibunya
tidak mengetahui kepergiannya. Padahal di dalam tas sekolahnya Minato telah
menyiapkan satu pasang kaos dan celana panjang yang akan ia pakai selama
perjalanan menuju Tokyo.
“tak
biasanya kau berangkat sekolah sepagi ini”, tanya ayah heran
“ada
urusan di sekolah yang harus segera ku selesaikan”. Jawab Minato singkat
Setelah
berpamitan pada ayah dan ibunya, Minato segera meningalkan rumah dan secepat
mungkin menuju bandara mengingat saat ini waktu telah menunjukkan pukul 06.30
pagi. Dua puluh menit lagi Minato akan segera bertolak menuju Tokyo. Makin
dekat sepeda bututnya dengan bandara, maka makin bertambah cepat detak jantung
Minato karna tak sabar ingin cepat-cepat bertemu dengan Akira di Tokyo nanti
“tunggu aku Akira, aku akan datang untukmu”,
gumam Minato dalam hati
----
Pagi
ini bandara Narita-Jepang terlihat sangat ramai. Disana-sini nampak hiruk-pikuk
orang-orang yang sibuk dengan urusannya masing-masing. Sementara Minato nampak
tersenyum lega saat ia berhasil menapakkan kakinya di kota Tokyo. Tanpa pikir
panjang lagi, Minato segera bergegas menuju tempat perlombaan komik manga yang
diadakan oleh penerbit Keiko. Lokasinya terletak di dekat Taman Sumida yang
hanya berjarak beberapa meter dari bandara Narita.
“permisi,
bisakah saya bertemu dengan Akira Tanaka?”
“maaf
anda siapa? Akira siapa yang anda maksud?”
“nama
saya Minato. Akira adalah teman saya yang ingin mengikuti perlombaan membuat
komik manga”
“perlombaan
membuat komik manga? Mohon maaf, sepertinya anda salah informasi perihal
perlombaan tersebut. Perlombaan tersebut baru akan di mulai setelah liburan musim
semi usai, karena banyak peserta yang protes jika lomba di adakan bertepatan
dengan perayaan Golden Week. Karna tentunya akan menganggu perayaan liburan
musim semi”, jelas seorang penjaga di depan pintu masuk
Mendengar
penuturan penjaga tersebut, mulut Minato nampak menganga. Ia heran kenapa Akira
bisa pergi begitu cepat sebelum perlombaan itu di mulai. Padahal jika di
pikir-pikir waktu liburan musim semi atau yang biasa kita sebut Golden Week berlangsung cukup lama dari
awal Maret sampai akhir Mei setiap tahunnya.
Lagi
dan lagi Minato harus kecewa untuk yang kedua kalinya karena ia tetap tak bisa
bertemu dengan Akira meskipun ia telah jauh-jauh terbang ke Tokyo demi menemui
Akira. Bahkan tak tanggung-tanggung, Minato juga telah menjual beberapa barang
berharga miliknya demi membeli tiket pesawat ke Tokyo. Namun sesampainya di
Tokyo Minato justru harus menerima kenyataan pahit kalau dirinya tetap tidak bisa
menemukan Akira mengingat betapa luasanya ibu kota Jepang. Satu-satunya tempat
yang Minato ketahui selain penerbit Keiko adalah Taman Sumida, tempat favorit
di kota Tokyo saat musim semi tiba.
----
Dari
kejauhan nampak jejeran pohon sakura yang tumbuh rapi di pinggir-pinggir jalan
setapak. Setiap pohon itu di tumbungi bunga sakura yang bermekaran indah
berwarna pink. Di beberapa titik terlihat orang-orang yang sedang berpiknik
bersama keluarga. Ada juga sepasang kekasih yang sedang asik berfoto di bawah
pohon sakura. Sementara Minato hanya duduk di sebuah kursi kayu yang di
letakkan tepat di bawah pohon sakura yang batangnya nampak lebih besar dari
pohon-pohon lain.
“akira,
apa yang harus ku lakukan untuk menemukanmu?”
Minato
merasa sangat putus asa. Ia ingin menangis, namun ia malu karena di tempat itu
sangat banyak pengunjung yang ingin menikmati indahnya bunga sakura yang
bermekaran. Tanpa sengaja mata Minato tertuju pada seorang gadis yang juga
sedang duduk di sebuah kursi kayu layaknya Minato. Wajah gadis itu nampak tak
asing.
“sepertinya
aku mengenal gadis itu”
Perlahan
Minato menapakkan kakinya mendekati gadis itu. Sementara gadis itu masih asik
menatap indahnya bunga sakura yang bermekaran
“AKIRAAA?!!!!”
Jantung
Minato hampir saja copot saat ia mengetahui siapa gadis yang sejak tadi duduk
termangu menatap pohon sakura. Ternyata gadis itu adalah Akira, sahabat masa
kecilnya. Bahkan bukan hanya Minato yang terkejut, Akira pun juga ikut terkejut
melihat kehadiran Minato yang tiba-tiba saja sudah berada di Taman Sumida-Tokyo
“Minato?
Bagaimana kau bisa berada di sini?!”, tanya Akira heran
Minato
tak langsung menjawab pertanyaan Akira. Ia sibuk memperhatikan Akira dari ujung
kepala sampai ke ujung kaki. Rasanya baru satu bulan berlalu, namun sudah banyak
sekali perubahan pada Akira. Saat ini ia terlihat lebih kurus. Pipinya tidak
lagi se-chubby dulu. Matanya nampak hitam ke dalam layaknya orang yang sedang
sakit. Bibirnya pun pucat tanpa warna. Namun ada satu hal yang lebih mencolok.
Rambut panjang Akira kini telah berubah. Ia memotongnya hingga bentuknya
menyerupai bentuk rambut laki-laki.
“akira,
apa yang terjadi padamu?”
Akira
tidak menjawab. Ia tidak mengeluarkan sepatah katapun untuk menjawab pertanyaan
Minato
“kenapa
kau membohongiku? Bukankah lomba itu baru akan di mulai setelah liburan musim
semi usai? Lalu kenapa kau pergi ke Tokyo begitu cepat? Apa yang ingin kau
lakukan di sini?”
“Akira ayo kita ke rumah sakit. Dokter
Yoshida telah menunggumu”
Dari
kejauhan nampak Nyonya Tanaka yang sedang melambaikan tangan pada Akira.
Sementara Minato nampak bingung mendengar apa yang telah di ucapkan oleh wanita
paruh baya tersebut
“ke
dokter? Siapa yang sakit?! Jawab Akira! Jawab!”
Minato
mengguncang-guncangkan tubuh Akira. Sementara bulir-bulir bening mulai menetes
membasahi pipi Akira
“maafkan
aku Minato. Aku telah banyak membohongimu. Aku pergi ke Tokyo bukan untuk
mengikuti perlombaan itu, tetapi untuk mengobati penyakit parah yang telah ku derita
setengah tahun terakhir. Di kota Yokohama peralatan kedokterannya tidak
secanggih di Tokyo, oleh sebab itu aku pergi ke Tokyo agar aku bisa sembuh dari
penyakitku ini”
Mendengar
ucapan Akira, mulut Minato menganga lebar. Ia seperti tak percaya dengan apa
yang telah Akira ucapkan padanya
“penyakit
apa yang kau derita?”, tanya Minato perlahan
“dokter
memvonisku terkena kanker darah stadium tiga”
Hari
ini adalah tanggal 20 Maret, hari dimana puncak musim semi tiba. Nampak
orang-orang asli Jepang dan para turis yang berbondong-bondong pergi ke Taman
Sumida untuk menikmati saat-saat terakhir bunga sakura bermekaran sebelum di
mulainya musim hujan. Tak terkecuali Minato yang sejak tadi masih duduk di
samping tempat tidur Akira. Sudah hampir tiga minggu belakangan ini Minato
menemani Akira di rumah sakit. Ia tak ingin meninggalkan Akira mengingat
kondisi Akira yang semakin tidak memungkinkan
“minato,
hari ini adalah hari setsubun no hi. Mau kah kau menemaniku melihat bunga sakura bermekaran di Taman Sumida?”,
pinta Akira
“tapi
Akira, kondisi mu tidak memungkinkan jika ingin jalan-jalan keluar”
“aku
baik-baik saja Minato. Tak ada yang perlu di khawatirkan. Aku mohon padamu,
temani aku ke Taman Sumida. Aku ingin melihat bunga sakura bermekaran
bersamamu”
Dengan
berat hati Minato terpaksa memenuhi keinginan Akira. Padahal dokter masih belum
memperbolehkan Akira keluar rumah sakit. Namun apa daya, Akira tetap bersikeras
ingin pergi ke Taman Sumida untuk melihat saat-saat terakhir bunga sakura bermekaran di tahun ini
----
“lihatlah
bunga sakura itu”. Akira menujuk salah satu pohon sakura yang di tumbuhi rerimbunan
bunga sakura berwarna merah muda
“aku
merasa beruntung karena masih bisa melewati musim semi tahun ini bersamamu. Apalagi
bisa melihat indahnya bunga sakura bermekaran di salah satu tempat impianku
sejak dulu”, sambung Akira
Minato
tertegun. Ia teringat kembali akan keinginan Akira selama ini untuk bisa melewati
musim semi di Taman Sumida, tempat yang paling banyak di kunjungi saat musim
semi tiba mengingat betapa banyaknya jumlah pohon sakura yang tumbuh di tempat
itu.
“emm
Akira, aku datang ke sini untuk menyampaikan sesuatu padamu”
Akira
tidak menjawab. Nampaknya ia masih asik menikmati indahnya bunga sakura
sampai-sampai ia tidak menyadari kalau ia telah meletakkan kepalanya yang sudah
tidak di tumbuhi sehelai rambutpun bersandar di pundak Minato
“emm
aku ... aku ... aku datang kesini karna aku ingin bilang padamu kalau ... kalau
aku ... kalau aku mencintaimu sejak sepuluh tahun yang lalu saat pertama kali
aku mengenalmu”
Ketika
kalimat itu terlepas dari bibir Minato, seketika itu juga perasaan lega dapat
di rasakan oleh Minato. Akhirnya setelah menunggu hingga sepuluh tahun lamanya,
ia berhasil juga menyatakan perasaanya pada Akira.
“akira,
apa kau tidak mendengarku?”
Minato
nampak heran melihat Akira yang sejak tadi masih bersandar dengan tenang di
pundaknya. Ia tidak merespon apa yang telah Minato katakan padanya
“akira,
apa kau tertidur?”, Minato menepuk-nepuk pipi Akira perlahan. Namun Akira tetap
diam dan tidak merespon panggilan Minato
“akira,
akira sadar! Akira sadar! Jangan pergi meninggalkanku! Aku mencintaimu akira!
Bangun! Ku mohon jangan pergi meninggalkanku!”
Bulir-bulir
bening mulai menetes membasahi pipi Minato. Ia panik melihat Akira yang
tiba-tiba saja sudah tak sadarkan diri. Dengan perasaan sedih dan gelisah, sekuat
tenaga Minato menggendong Akira kembali ke rumah sakit
----
Minato
tersenyum menatap bunga sakura bermekaran di hutan belakang sekolah. Ia tak
pernah menyangka kalau tahun lalu adalah tahun terakhirnya bisa menikmati
indahnya bunga sakura bermekaran bersama Akira. Karena tahun ini Minato hanya
bisa merayakan musim semi sendirian tanpa kehadiran Akira di sampingnya.
“Tuhan, ijinkanlah aku bertemu dengan
seseorang yang amat ku cintai sebelum akhirnya aku harus kembali padamu. Ku
mohon pertemukanlah aku dengan Minato nanti saat puncak musim semi tiba”
Bulir-bulir
bening nampak menetes dari mata sipit Minato saat ia membaca baris terakhir
buku diary Akira yang di berikan oleh Nyonya Tanaka saat Minato masih berada di
Tokyo. Tak di sangka ternyata selama ini Akira juga merasakan perasaan yang
sama seperti apa yang Minato rasakan
selama ini. Namun apa daya, meskipun kenyataanya Minato telah mengetahui kalau
Akira juga mencintainya, ia tetap saja tak bisa bersatu dengan Akira mengingat
kini Akira telah berada di suatu tempat yang tak mungkin bisa Minato jangkau
sampai kapanpun. “sayōnara,Akira.
Watashi wa anata no koto o itsu made mo aishite”
(selamat jalan,
Akira. Aku akan selalu mencintaimu)
Penyunting Akhir :
TIM REDAKSI DIVA PRESS
PUBLISHING, YOGJAKARTA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar