Selasa, 06 Oktober 2015

The Last Autumn In Tokyo


Akira tersenyum. Mungkin itu adalah saat terakhirnya melihat bunga sakura bermekaran di Kota kelahirannya, Yokohama. Sebuah kota metropolitan yang merupakan salah satu pusat pelabuhan dan perdagangan terbesar di Negeri Sakura, Jepang. Karena tak terasa besok ia akan segera terbang ke Tokyo untuk menjalani serangkaian kegiatan yang sangat di bencinya seumur hidup
Waktu berlalu. Saat ini jam telah menunjukkan pukul empat sore. Sebentar lagi Akira akan segera lepas landas menuju Ibukota Jepang, Tokyo. Berkali-kali ia menoleh ke kanan dan ke kiri, berharap Minato akan menyusulnya ke bandara sore ini. Namun harapannya kian pupus saat terdengar suara panggilan penumpang untuk penerbangan pesawat rute Yokohama-Tokyo yang akan segera lepas landas sepuluh menit lagi
“Akira, cepatlah. Kita bisa ketinggalan pesawat nanti”
Ibu menggandeng tangan Akira memasuki ruang tunggu. Namun Akira masih saja tidak ingin menggerakan kakinya berpindah dari tempat itu. Ia masih mengharapkan kedatangan Minato
“apa lagi yang kau tunggu?”
Ibu mulai kesal melihat tingkah Akira yang nampak uring-uringan. Padahal ia sudah bersusah payah menabung uang hingga ratusan juta rupiah demi anak semata wayangnya, Akira. Bukan hanya itu, bahkan ibu juga telah menjual berbagai perhiasan peninggalan sang suami yang telah wafat enam tahun silam saat Akira masih berumur sembilan tahun.
“sebentar bu, ada seseorang yang harus ku temui”
“tidak ada waktu lagi Akira. Kita harus segera pergi sebelum ketinggalan pesawat”
Ibu menarik tangan Akira memasuki ruang tunggu. Nampak gumpalan air mata yang ingin tertumpah dari mata sipit Akira. Harapannya bertemu dengan Minato untuk yang terakhir kalinya ternyata musnah begitu saja. Kini ia hanya bisa berharap dan berdoa agar ia bisa kembali bertemu dengan Minato suatu saat nanti

-----

“minato tunggu!”. Yui berlari mengejar Minato yang nampak terburu-buru meninggalkan sekolah.
“ada apa?”, tanya Minato
“mau kemana kau? Bukankah kita harus menyiapkan pesta penyambutan musim semi tahun ini?”
“maaf Yui. Kali ini aku tak bisa membantumu. Ada hal penting yang harus segera ku selesaikan”. Jawab Minato singkat, Setelah itu ia segera mengayuh sepedanya meninggalkan sekolah tanpa berpamitan terlebih dahulu pada Yui. Entah hal penting apa yang membuatnya sangat tergesa-gesa seperti saat itu.
“ayo cepattt!!!”
Keringat bercucuran membasahi wajah Minato. Seragam sekolahnya pun nampak basah terkena tetes keringat yang berjatuhan dari dahinya. Ia terus mengayuh sepedanya dengan kencang menuju bandara. Namun usaha kerasnya untuk menemui Akira ternyata tidak membuahkan hasil. Sesampainya di bandara ia mendapat jawaban miris dari seorang petugas bandara kalau pesawat rute Yokohama-Tokyo telah lepas landas sekitar setengah jam yang lalu. Dengan perasaan kecewa Minato terduduk di samping pilar-pilar bandara.. Ia menangis tersedu-sedu karena tidak bisa menemui Akira untuk yang terakhir kalinya. Padahal Minato telah berupaya sekuat tenaga agar bisa sampai di bandara secepat mungkin menggunakan sepeda bututnya. Akan tetapi peluh yang telah mengaliri sekujur tubuhnya ternyata hanya terbuang sia-sia. Ia telah kehilangan sesosok sahabat masa kecilnya, Akira. Seorang gadis baik hati yang telah di kenalnya kurang lebih sepuluh tahun belakangan ini.

----

 “akira ... aku merindukanmu”
Berkali-kali Minato mengucapkan kalimat itu di depan jendela kamarnya sambil memandangi langit malam yang dihiasi kerlipan bintang-bintang. Sesekali nampak salah satu bintang itu menghilang di balik pekatnya awan hitam yang menyelimutinya. Semilir angin yang berhembus tenang makin menambah indah suasana malam itu. Dari kejauhan juga nampak beberapa dahan pohon yang menari-nari tertiup angin malam yang sejuk. Namun keindahan malam itu tetap saja tidak bisa mengubah kesedihan hati Minato saat harus berpisah dengan sahabat masa kecilnya, Akira. Terlebih lagi saat ia membaca surat terakhir dari Akira yang di tulisnya di atas sebuah kertas berwarna biru muda, warna yang sangat di sukai oleh Minato
Minato san, hari ini adalah hari terakhir ku di Yokohoma. Selepas jam tiga sore nanti, pesawatku akan segera lepas landas menuju Tokyo. Aku harap kau bisa menemui ku di bandara nanti sepulang sekolah.
Tanpa sadar Minato mulai meneteskan air matanya. Ia memeluk surat pemberian Akira dengan erat menggunakan tangan kanannya. Sementara tangan kirinya nampak mengenggam sebuah buku bersampul hitam yang agak usang. Entah buku apa yang sedang di genggamnya. Yang jelas ketika buku itu terbuka, seketika itu juga air mata makin mengalir deras membasahi pipi Minato.
Rupanya buku itu adalah buku diary milik Minato. Akira memberikan  buku itu pada Minato saat mereka masih duduk di bangku sekolah dasar. Di dalam buku itu terdapat banyak sekali foto Akira dengan berbagai macam pose. Ternyata selama ini Minato suka memotret Akira secara diam-diam. Ia sengaja memecahkan celengan babi kesayanganya demi membeli sebuah handphone berkamera agar ia bisa mengabadikan setiap momen berharga yang telah ia lewati bersama Akira
Halaman pertama buku itu terbuka. Di halaman itu terpampang jelas foto Akira yang sedang tersenyum lebar menatap ke bawah dari atas Landmark Tower yang berketinggian mencapai 296,3 meter di atas permukaan laut. Di bawah foto itu bertuliskan Randomākutawā de ason Akira hajimete (pertama kalinya bermain dengan Akira di Landmark Tower)
Di halaman kedua terpampang foto Akira yang sedang tertidur pulas di kelas sambil memeluk tas Minato. Tak lupa Minato juga menuliskan sebuah kalimat tepat di bawah foto yang telah di tempelnya. Kalimat itu bertuliskan  Akira suimin, watashitoisshoni utsukushī yume”  (tidurlah Akira, mimpilah yang indah bersamaku)
Halaman ketiga terpampang foto Akira yang sedang mengenggam piala perlombaan membuat komik manga yang di adakan antar sekolah, “Akira wa anata ga saidaida, omedetō” (selamat Akira, kau memang yang terhebat)
Begitulah halaman-halaman seterusnya buku usang itu hingga sampailah jari-jemari Minato pada halaman akhir. Di halaman akhir terpampang jelas fotonya besama Akira saat masih duduk di bangku taman kanak-kanak. Mereka berdua nampak bergandengan tangan dan tersenyum manis di depan kamera. Rupanya sejak saat itulah Minato mulai menyukai Akira. Dan rasa sukanya makin bertambah besar saat ia dan Akira tak pernah terpisahkan karna selalu mendaftarkan diri di sekolah yang sama. Tak lupa Minato juga menuliskan sebuah kalimat layaknya foto-foto lain di halaman-halaman sebelumnya. Kalimat itu bertuliskan sebuah kalimat harapan yang hingga kini masih menjadi mimpi dan bayang-bayang bagi Minato, “Ikutsu ka no ten de, watashi wa genzai no yō ni, futatabi anata no te o nigiru koto ga dekimasu” (suatu saat nati, entah kapan aku bisa menggengam tanganmu lagi seperti saat ini)
Musim semi hampir berakhir, membuat perasaan Minato makin bertambah sedih mengingat ia harus melewati musim semi tahun ini tanpa kehadiran Akira di sampingnya. Padahal jauh sebelum Akira memiliki rencana mendadak untuk mengikuti lomba membuat komik manga di Tokyo, ia telah berjanji pada Minato untuk melawati musim semi tahun ini bersamanya. Bahkan hingga kini Minato masih ingat dengan jelas apa yang telah di ucapkan Akira padanya saat mereka sedang menaiki sepeda sepulang sekolah
“aku tak sabar menantikan musim semi. Tentu sangat menyenangkan jika bisa melihat indahnya bunga sakura bermekaran di hutan belakang sekolah bersamamu, seperti tahun-tahun sebelumnya”

----

“belakangan ini aku tak pernah lagi melihat Akira. Kemana dia?”, tanya Yui
“sudah hampir satu bulan terakhir ia berada di Tokyo untuk mengikuti lomba membuat komik manga”, jawab Minato
“benarkah? Wah pasti sangat menyenangkan bisa berada di Tokyo. Apalagi jika bisa melihat bunga sakura bermekaran di Taman Sumida, betapa indahnya jika kita bisa melihat ratusan pohon sakura bermekaran di tempat itu”
“emm, Yui. Jika kau menyukai seseorang, apakah kau akan mengatakan hal itu padanya?”
Tiba-tiba saja Minato melontarkan sebuah pertanyaan yang sangat melenceng dari topik awal. Entah apa yang sedang ada di kepalanya saat ini sampai-sampai ia melontarkan pertanyaan konyol seperti itu pada Yui
“kenapa kau menanyakan hal semacam itu padaku?”, tanya Yui heran
“aku hanya ingin tau jawabanmu saja”
“ya, tentu saja aku akan mengatakan hal itu padanya. Karna aku tak ingin selamanya menjadi bayang-bayang di balik kehidupannya”
Mendengar ucapan Yui, nampak senyum lebar merekah dari bibir Minato. “terima kasih Yui. Sekarang aku tau apa yang harus ku lakukan”
----
Gitar, handphone, PSP, dan beberapa uang tabungan yang masih tersisa di dalam celengan telah Minato gunakan untuk membeli tiket pesawat ke Tokyo. Ia ingin menyusul Akira dan menyatakan perasaanya seperti apa yang telah Yui ucapkan padanya.
Pagi-pagi sekali saat matahari masih berada di sepenggalan, Minato sudah bersiap-siap pergi ke bandara karena pesawat yang ia tumpangi akan lepas landas sekitar pukul tujuh pagi. Ia sengaja mengenakan seragam sekolah agar ayah dan ibunya tidak mengetahui kepergiannya. Padahal di dalam tas sekolahnya Minato telah menyiapkan satu pasang kaos dan celana panjang yang akan ia pakai selama perjalanan menuju Tokyo.
“tak biasanya kau berangkat sekolah sepagi ini”, tanya ayah heran
“ada urusan di sekolah yang harus segera ku selesaikan”. Jawab Minato singkat
Setelah berpamitan pada ayah dan ibunya, Minato segera meningalkan rumah dan secepat mungkin menuju bandara mengingat saat ini waktu telah menunjukkan pukul 06.30 pagi. Dua puluh menit lagi Minato akan segera bertolak menuju Tokyo. Makin dekat sepeda bututnya dengan bandara, maka makin bertambah cepat detak jantung Minato karna tak sabar ingin cepat-cepat bertemu dengan Akira di Tokyo nanti
tunggu aku Akira, aku akan datang untukmu”, gumam Minato dalam hati

----

Pagi ini bandara Narita-Jepang terlihat sangat ramai. Disana-sini nampak hiruk-pikuk orang-orang yang sibuk dengan urusannya masing-masing. Sementara Minato nampak tersenyum lega saat ia berhasil menapakkan kakinya di kota Tokyo. Tanpa pikir panjang lagi, Minato segera bergegas menuju tempat perlombaan komik manga yang diadakan oleh penerbit Keiko. Lokasinya terletak di dekat Taman Sumida yang hanya berjarak beberapa meter dari bandara Narita.
“permisi, bisakah saya bertemu dengan Akira Tanaka?”
“maaf anda siapa? Akira siapa yang anda maksud?”
“nama saya Minato. Akira adalah teman saya yang ingin mengikuti perlombaan membuat komik manga”
“perlombaan membuat komik manga? Mohon maaf, sepertinya anda salah informasi perihal perlombaan tersebut. Perlombaan tersebut baru akan di mulai setelah liburan musim semi usai, karena banyak peserta yang protes jika lomba di adakan bertepatan dengan perayaan Golden Week. Karna tentunya akan menganggu perayaan liburan musim semi”, jelas seorang penjaga di depan pintu masuk
Mendengar penuturan penjaga tersebut, mulut Minato nampak menganga. Ia heran kenapa Akira bisa pergi begitu cepat sebelum perlombaan itu di mulai. Padahal jika di pikir-pikir waktu liburan musim semi atau yang biasa kita sebut Golden Week berlangsung cukup lama dari awal Maret sampai akhir Mei setiap tahunnya.
Lagi dan lagi Minato harus kecewa untuk yang kedua kalinya karena ia tetap tak bisa bertemu dengan Akira meskipun ia telah jauh-jauh terbang ke Tokyo demi menemui Akira. Bahkan tak tanggung-tanggung, Minato juga telah menjual beberapa barang berharga miliknya demi membeli tiket pesawat ke Tokyo. Namun sesampainya di Tokyo Minato justru harus menerima kenyataan pahit kalau dirinya tetap tidak bisa menemukan Akira mengingat betapa luasanya ibu kota Jepang. Satu-satunya tempat yang Minato ketahui selain penerbit Keiko adalah Taman Sumida, tempat favorit di kota Tokyo saat musim semi tiba.

----

Dari kejauhan nampak jejeran pohon sakura yang tumbuh rapi di pinggir-pinggir jalan setapak. Setiap pohon itu di tumbungi bunga sakura yang bermekaran indah berwarna pink. Di beberapa titik terlihat orang-orang yang sedang berpiknik bersama keluarga. Ada juga sepasang kekasih yang sedang asik berfoto di bawah pohon sakura. Sementara Minato hanya duduk di sebuah kursi kayu yang di letakkan tepat di bawah pohon sakura yang batangnya nampak lebih besar dari pohon-pohon lain.
“akira, apa yang harus ku lakukan untuk menemukanmu?”
Minato merasa sangat putus asa. Ia ingin menangis, namun ia malu karena di tempat itu sangat banyak pengunjung yang ingin menikmati indahnya bunga sakura yang bermekaran. Tanpa sengaja mata Minato tertuju pada seorang gadis yang juga sedang duduk di sebuah kursi kayu layaknya Minato. Wajah gadis itu nampak tak asing.
“sepertinya aku mengenal gadis itu”
Perlahan Minato menapakkan kakinya mendekati gadis itu. Sementara gadis itu masih asik menatap indahnya bunga sakura yang bermekaran
“AKIRAAA?!!!!”
Jantung Minato hampir saja copot saat ia mengetahui siapa gadis yang sejak tadi duduk termangu menatap pohon sakura. Ternyata gadis itu adalah Akira, sahabat masa kecilnya. Bahkan bukan hanya Minato yang terkejut, Akira pun juga ikut terkejut melihat kehadiran Minato yang tiba-tiba saja sudah berada di Taman Sumida-Tokyo
“Minato? Bagaimana kau bisa berada di sini?!”, tanya Akira heran
Minato tak langsung menjawab pertanyaan Akira. Ia sibuk memperhatikan Akira dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. Rasanya baru satu bulan berlalu, namun sudah banyak sekali perubahan pada Akira. Saat ini ia terlihat lebih kurus. Pipinya tidak lagi se-chubby dulu. Matanya nampak hitam ke dalam layaknya orang yang sedang sakit. Bibirnya pun pucat tanpa warna. Namun ada satu hal yang lebih mencolok. Rambut panjang Akira kini telah berubah. Ia memotongnya hingga bentuknya menyerupai bentuk rambut laki-laki.
“akira, apa yang terjadi padamu?”
Akira tidak menjawab. Ia tidak mengeluarkan sepatah katapun untuk menjawab pertanyaan Minato
“kenapa kau membohongiku? Bukankah lomba itu baru akan di mulai setelah liburan musim semi usai? Lalu kenapa kau pergi ke Tokyo begitu cepat? Apa yang ingin kau lakukan di sini?”
Akira ayo kita ke rumah sakit. Dokter Yoshida telah menunggumu
Dari kejauhan nampak Nyonya Tanaka yang sedang melambaikan tangan pada Akira. Sementara Minato nampak bingung mendengar apa yang telah di ucapkan oleh wanita paruh baya tersebut
“ke dokter? Siapa yang sakit?! Jawab Akira! Jawab!”
Minato mengguncang-guncangkan tubuh Akira. Sementara bulir-bulir bening mulai menetes membasahi pipi Akira
“maafkan aku Minato. Aku telah banyak membohongimu. Aku pergi ke Tokyo bukan untuk mengikuti perlombaan itu, tetapi untuk mengobati penyakit parah yang telah ku derita setengah tahun terakhir. Di kota Yokohama peralatan kedokterannya tidak secanggih di Tokyo, oleh sebab itu aku pergi ke Tokyo agar aku bisa sembuh dari penyakitku ini”
Mendengar ucapan Akira, mulut Minato menganga lebar. Ia seperti tak percaya dengan apa yang telah Akira ucapkan padanya
“penyakit apa yang kau derita?”, tanya Minato perlahan
“dokter memvonisku terkena kanker darah stadium tiga”
Hari ini adalah tanggal 20 Maret, hari dimana puncak musim semi tiba. Nampak orang-orang asli Jepang dan para turis yang berbondong-bondong pergi ke Taman Sumida untuk menikmati saat-saat terakhir bunga sakura bermekaran sebelum di mulainya musim hujan. Tak terkecuali Minato yang sejak tadi masih duduk di samping tempat tidur Akira. Sudah hampir tiga minggu belakangan ini Minato menemani Akira di rumah sakit. Ia tak ingin meninggalkan Akira mengingat kondisi Akira yang semakin tidak memungkinkan
“minato, hari ini adalah hari setsubun no hi. Mau kah kau menemaniku melihat bunga sakura bermekaran di Taman Sumida?”, pinta Akira
“tapi Akira, kondisi mu tidak memungkinkan jika ingin jalan-jalan keluar”
“aku baik-baik saja Minato. Tak ada yang perlu di khawatirkan. Aku mohon padamu, temani aku ke Taman Sumida. Aku ingin melihat bunga sakura bermekaran bersamamu”
Dengan berat hati Minato terpaksa memenuhi keinginan Akira. Padahal dokter masih belum memperbolehkan Akira keluar rumah sakit. Namun apa daya, Akira tetap bersikeras ingin pergi ke Taman Sumida untuk melihat saat-saat terakhir bunga  sakura bermekaran di tahun ini

----

“lihatlah bunga sakura itu”. Akira menujuk salah satu pohon sakura yang di tumbuhi rerimbunan bunga sakura berwarna merah muda
“aku merasa beruntung karena masih bisa melewati musim semi tahun ini bersamamu. Apalagi bisa melihat indahnya bunga sakura bermekaran di salah satu tempat impianku sejak dulu”, sambung Akira
Minato tertegun. Ia teringat kembali akan keinginan Akira selama ini untuk bisa melewati musim semi di Taman Sumida, tempat yang paling banyak di kunjungi saat musim semi tiba mengingat betapa banyaknya jumlah pohon sakura yang tumbuh di tempat itu.
“emm Akira, aku datang ke sini untuk menyampaikan sesuatu padamu”
Akira tidak menjawab. Nampaknya ia masih asik menikmati indahnya bunga sakura sampai-sampai ia tidak menyadari kalau ia telah meletakkan kepalanya yang sudah tidak di tumbuhi sehelai rambutpun bersandar di pundak Minato
“emm aku ... aku ... aku datang kesini karna aku ingin bilang padamu kalau ... kalau aku ... kalau aku mencintaimu sejak sepuluh tahun yang lalu saat pertama kali aku mengenalmu”
Ketika kalimat itu terlepas dari bibir Minato, seketika itu juga perasaan lega dapat di rasakan oleh Minato. Akhirnya setelah menunggu hingga sepuluh tahun lamanya, ia berhasil juga menyatakan perasaanya pada Akira.
“akira, apa kau tidak mendengarku?”
Minato nampak heran melihat Akira yang sejak tadi masih bersandar dengan tenang di pundaknya. Ia tidak merespon apa yang telah Minato katakan padanya
“akira, apa kau tertidur?”, Minato menepuk-nepuk pipi Akira perlahan. Namun Akira tetap diam dan tidak merespon panggilan Minato
“akira, akira sadar! Akira sadar! Jangan pergi meninggalkanku! Aku mencintaimu akira! Bangun! Ku mohon jangan pergi meninggalkanku!”
Bulir-bulir bening mulai menetes membasahi pipi Minato. Ia panik melihat Akira yang tiba-tiba saja sudah tak sadarkan diri. Dengan perasaan sedih dan gelisah, sekuat tenaga Minato menggendong Akira kembali ke rumah sakit

----

Minato tersenyum menatap bunga sakura bermekaran di hutan belakang sekolah. Ia tak pernah menyangka kalau tahun lalu adalah tahun terakhirnya bisa menikmati indahnya bunga sakura bermekaran bersama Akira. Karena tahun ini Minato hanya bisa merayakan musim semi sendirian tanpa kehadiran Akira di sampingnya.
Tuhan, ijinkanlah aku bertemu dengan seseorang yang amat ku cintai sebelum akhirnya aku harus kembali padamu. Ku mohon pertemukanlah aku dengan Minato nanti saat puncak musim semi tiba
Bulir-bulir bening nampak menetes dari mata sipit Minato saat ia membaca baris terakhir buku diary Akira yang di berikan oleh Nyonya Tanaka saat Minato masih berada di Tokyo. Tak di sangka ternyata selama ini Akira juga merasakan perasaan yang sama seperti  apa yang Minato rasakan selama ini. Namun apa daya, meskipun kenyataanya Minato telah mengetahui kalau Akira juga mencintainya, ia tetap saja tak bisa bersatu dengan Akira mengingat kini Akira telah berada di suatu tempat yang tak mungkin bisa Minato jangkau sampai kapanpun. “sayōnara,Akira. Watashi wa anata no koto o itsu made mo aishite” (selamat jalan, Akira. Aku akan selalu mencintaimu)


Penyunting Akhir :
TIM REDAKSI DIVA PRESS PUBLISHING, YOGJAKARTA

Tidak ada komentar: