Selasa, 06 Oktober 2015

Sebuah Kisah di Perbatasan Indonesia dan Timor Leste



Letnan eko, begitulah panggilanku. Mengemban kehormatan sebagai satuan tugas pengamanan perbatasan atau biasa disebut Satgas Pamtas adalah kebanggan tersendiri buatku.
Aku tergabung dalam Batalyon Infantry 742 Satya Wirayuda. 650 anggota tersebar di 39 pos sepanjang perbatasan Republik Indonesia dengan Republik Demokrasi Timor Leste. Disini patroli rutin menjadi tugas pokok kami demi memastikan garda depan Indonesia berada dalam kondisi aman bagi warga.
Saat ini aku bertugas di Desa Dafala, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Lokasinya berjarak 2,5 km dari garis batas dua negara. Bukan hanya patroli, tugasku disini juga melakukan pembinaan teritorial wilayah perbatasan. Tugas pokok lainnya yaitu menitikberatkan pada ketahanan dan pembangunan wilayah bersama-sama masyarakat.
Disini kami memiliki program khusus, yaitu Program Prajurit masuk sekolah. Fokus utamanya adalah percepatan membaca bagi siswa sekolah dasar. Aku sungguh tak menyangka, ternyata mengamankan perbatasan jauh lebih mudah dibandingkan mengendalikan isi kelas.
Sekolah terdekat dengan posku adalah SDK Dafala. SD Katolik ini mempunyai 195 murid yang ditangani 4 guru PNS dan 5 guru honor. Disini jumlah murid dan guru tidak seimbang. Tak heran banyak anak kelas 5 yang belum lancar membaca.
Sementara aku khusus ditugaskan untuk berinteraksi langsung dengan anak-anak kelas 1. Ini adalah pengalaman pertama bagiku. Aku harus pintar-pintar mengambil perhatian mereka. Misalnya saja dengan menciptakan suasana belajar yang riang agar mempercepat anak dalam proses pemahaman belajar.
Sebenarnya mengajar bukanlah tugas pokok kami, tapi kami tidak bisa diam saja melihat ketertinggalan tepat berada di depan mata. Lagipula mengajar memberikan kesenangan batin, terutama untuk saya pribadi, karena pada dasarnya saya memang suka anak-anak. Bisa bersama-sama merangkul mereka. Terutama ketika saya mampu memberikan sesuatu yang bisa merubah mereka ke arah yang lebih baik. Contohnya saja ketika saya baru pertama kali menginjakkan kaki di pulau ini, masih banyak sekali anak-anak yang belum bisa membaca, namun setelah satuan kami membantu proses belajar-mengajar, Alhamdulillah saat ini sudah banyak anak-anak yang bisa membaca. Hal itulah yang menciptakan kepuasan tersendiri bagi saya dan teman-teman
Dikelas satu ada dua angota yang mengajar. Dengan jumlah 34 siswa perlu perjuangan extra untuk mendampingi mereka. Kami mengajar dari nol karena mengenal huruf adalah pengalaman pertama bagi mereka. Kami upayakan anak-anak bisa membaca selama waktu penugasan kami yang singkat karena membaca adalah kunci untuk menggali berbagai ilmu pengetahuan
Yah, namanya juga kelas satu. Tingkah alaminya sering membuat kewalahan. Kalau dibilang nakal, memang mereka sangat nakal.  Saat pertama kali masuk, kadang-kadang kami dilempari kulit pisang atau kulit permen. Lalu ada juga yang naik ke atas meja atau kejar-kejaran di dalam kelas. Kami sudah menegur mereka, namun tidak dihiraukan. Kenakalan mereka sungguh luar biasa. Jadi kami butuh kesabaran extra untuk mengajar disini

***

Sejatinya ketahanan nasional tak selamanya dipertahankan dengan kekuatan fisik atau tempur. Justru senjata terkuat ada pada masyarakat. Inilah pentingnya menanamkan pandangan hidup bangsa sejak dini, karena nyatanya anak-anak perbatasan minim informasi tentang tanah airnya sendiri. Oleh karena itu, tiga kali dalam seminggu aku dan dua anggota lainnya mengadakan ekstrakurikuler di sekolah. Kami berusaha mengenalkan pancasila dengan cara yang mudah. Ekstrakurikuler tersebut biasanya berbetuk kuis sambung. Misalnya saja aku menunjuk murid A untuk menyebutkan sila ke 1, kemudian dilanjutkan oleh murid B yang menyebutkan sila ke 2, begitulah seterusnya sampai semua anak benar-benar mengetahui makna pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia. Karena dengan paham pancasila, anak-anak bisa mengenal bangsanya. Dengan mengenal, mereka akan mencintai, hingga akhirnya muncul kebanggan untuk mempertahankan tanah kelahirannya.

***

Pagi ini aku di panggil ke Markas Komando Satuan tugas atau Mako Satgas di Kota Atambua. Dokumentasi yang pernah ku buat di Pos Dafala ternyata mendapat apresiasi dari komandan. Dari awal tiba di pulau ini, komandan memang berkomitmen ingin mengusung program rumah wirayuda ke perbatasan.
Rumah wirayuda merupakan wadah kegiatan yang kami gagas secara terarah, terukur dan berkelanjutan untuk mendukung masyarakat. Ada lima bidang yang menjadi pokok kegiatan di rumah wirayuda, yaitu pendidikan, kesehatan, cinta pancasila, kewirausahaan, dan wirayuda berbagi. Masing-masing pos diwajibkan memiliki satu program unggulan. Jika di Pos Dafala pendidikan jadi fokus utama, di Pos Silawan justru mengangkat potensi kewirausahaan warganya. Bekerja sama dengan aparat desa dan ibu-ibu PKK, anggota Pos Silawan memberdayakan masyarakat untuk membuat kerajinan tangan khas Kabupaten Belu. Hasilnya sungguh di luar dugaan. Barang hasil kerajinan tangan mereka diminati banyak turis. Baik turis dari Timor Leste, maupun turis Domestik Indonesia.
Demi menjaga kelestarian usaha, Satgas Pamtas bersama aparat desa mendirikan Souvenir Cover di pintu lintas batas Potaeng. Berbagai souvenir seperti lukisan pasir, patung dan berbagai kerajinan tangan lainnya bisa di jual disni. Dengan didirikannya Souvenir Cover, peluang usaha makin terbuka lebar bagi masyarakat. Gerbang dua negara yang tadinya hanya sebagai jalur perlintasan antara Republik Indonesia dengan Republik Demokrasi Timor Leste, kini telah berubah menjadi tempat yang menyimpan peluang usaha tinggi jika masyarakat terus dan mau berusaha mengembangkan usaha ini ke taraf yang lebih baik lagi.

***

Pos Mota’ain merupakan pintu lintas batas teramai dari 39 pos yang ada. Bukan hanya itu, Pos Mota’ain kerap kali dijadikan tempat pertemuan antara dua keluarga yang terpisah. Untuk hal ini, kami para prajurit TNI memberikan toleransi penuh asalkan ada laporan yang jelas. Karena kami mengerti, secara batas negara mereka memang terpisah, tapi secara ikatan budaya mereka terlahir dari nenek moyang yang sama.
Namun ada pula yang tak beruntung. Pak alfredo misalnya. Sejak masuk menjadi warga negara Indonesia, ia tak pernah lagi bertemu dengan sanak saudaranya di Timor Leste
pas saya 18 tahun indonesia masuk. Indonesia masuk disana, kami sudah rasa baik, sudah senang karna apa, orang punya anak semua kasih masuk di sekolah. Jadi masyarakat semua sudah ada yang pintar sehingga kami semua senang indonesia. Sehingga Indonesia keluar kami lari ikut kesini. Mati hidup dengan Indonesia, merah putih
Saat mendengar ucapan Pak Alfredo, hatiku bergetar. Sosok paruh baya ini benar-benar tulus mencintai Indonesia. Rasa cinta pada Indonesia membuatnya rela meninggalkan kemapanan di Timor Leste.
Saat ini Pak Alfredo hanya bekerja sebagai petani musiman seperti warga pada umunya. Namun ia baru akan mulai bekerja pada musim hujan, karena bercocok tanam hanya bisa dilakukan di musim hujan saja. Saat musim kemarau, lahan di biarkan terbengkalai dengan alasan susahnya memperoleh air. Pada akhirnya banyak warga mengangggur saat musim kemarau. Kurangnya informasi dan keterampilan membuat lahan penuh poteni berubah menjadi lahan tidur.
Bukan hanya masalah air saat musim kemarau, gagalnya penanaman cabe membuat anggota kelompok tani patah semangat. Akhirnya mereka menyerah satu persatu. Tapi tidak dengan Pak Alfredo. Ia orang yang gigih, tidak pantang menyerah dan mau berusaha walaupun dengan segala keterbatasan.
Perjuangannya bekerja keraspun membuahkan hasil. Dalam kurun waktu kurang dari 6 bulan, Pak Alfredo berhasil memanen jagung dan berbagai macam sayuran. Kelak saat kami pergi, Pak Alfredo tentu bisa melanjutkan pertaniannya sendiri. Karena sesungguhnya, kesuksesan tidak bisa diraih dengan mudah. Butuh kerja keras dan usaha seperti yang Pak Alfredo lakukan selama ini

***

Masih dalam rangkaian kegiatan rumah wirayuda, biasanya kami mengadakan bakti sosial tiap dua minggu sekali. Lokasinya bergilir di desa-desa perbatasan. Kali ini kami menuju Desa Haumeniana. Jaraknya kurang lebih 3 jam dari Desa Atambua. Saat tiba disana, kami disambut hangat oleh warga setempat
Bakti sosial ini kami kemas dengan melibatkan semua kalangan agar semua orang dapat berpartisipasi. Untuk segi pendidikan, kami sediakan permainan interaktif yang berwawasan kebangsaan untuk anak-anak sekolah. Sedangkan dari segi kesehatan kami adakan pengobatan massal. Pengobatan massal ini banyak diminati oleh warga setempat dan warga dari desa tetangga. Hal ini terjadi karena jauhnya akses kesehatan bagi warga yang sudah menjadi masalah klasik di pelosok Indonesia selama bertahun-tahun. Maka dengan adanya pengobatan massal ini, kami berupaya mendekatkan jarak antara warga dengan hak nya memperoleh kesehatan. Mungkin saja pengobatan massal ini kecil artinya, namun ramainya sambutan warga cukup membukakan mata bahwa pelayanan kesehatan merupakan hal langka bagi mereka.

***

Kini tak terasa sudah 6 bulan aku bertugas di Desa Dafala. Sebuah desa kecil yang nantinya akan kurindukan ketika aku harus pergi meninggalkan pulau ini. Selama 6 bulan berada disini, aku memperoleh banyak pembelajaran berharga. Dari anak-anak aku melihat tumbuhnya generasi cerdas yang siap membangun perbatasan. Dari Pak Alfredo aku belajar tentang makna perjuangan dan mencintai merah putih sesungguhya. Dan untuk teman-teman seperjuangan, terima kasih karena telah mengajarkanku tentang indahnya berbagi dan membantu masyarakat. Seperti yang pernah dikatakan oleh Jendral Sudirman, “tentara bukanlah orang khusus, tapi mereka merupakan bagian dari masyarakat yang mempunyai kewajiban tertentu. Dari, oleh, dan untuk rakyatlah mereka ada”

Tidak ada komentar: