Letnan
eko, begitulah panggilanku. Mengemban kehormatan sebagai satuan tugas
pengamanan perbatasan atau biasa disebut Satgas Pamtas adalah kebanggan
tersendiri buatku.
Aku
tergabung dalam Batalyon Infantry 742 Satya Wirayuda. 650 anggota tersebar di
39 pos sepanjang perbatasan Republik Indonesia dengan Republik Demokrasi Timor
Leste. Disini patroli rutin menjadi tugas pokok kami demi memastikan garda
depan Indonesia berada dalam kondisi aman bagi warga.
Saat
ini aku bertugas di Desa Dafala, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, Nusa
Tenggara Timur. Lokasinya berjarak 2,5 km dari garis batas dua negara. Bukan
hanya patroli, tugasku disini juga melakukan pembinaan teritorial wilayah
perbatasan. Tugas pokok lainnya yaitu menitikberatkan pada ketahanan dan
pembangunan wilayah bersama-sama masyarakat.
Disini
kami memiliki program khusus, yaitu Program Prajurit masuk sekolah. Fokus
utamanya adalah percepatan membaca bagi siswa sekolah dasar. Aku sungguh tak
menyangka, ternyata mengamankan perbatasan jauh lebih mudah dibandingkan
mengendalikan isi kelas.
Sekolah
terdekat dengan posku adalah SDK Dafala. SD Katolik ini mempunyai 195 murid
yang ditangani 4 guru PNS dan 5 guru honor. Disini jumlah murid dan guru tidak seimbang.
Tak heran banyak anak kelas 5 yang belum lancar membaca.
Sementara
aku khusus ditugaskan untuk berinteraksi langsung dengan anak-anak kelas 1. Ini
adalah pengalaman pertama bagiku. Aku harus pintar-pintar mengambil perhatian
mereka. Misalnya saja dengan menciptakan suasana belajar yang riang agar
mempercepat anak dalam proses pemahaman belajar.
Sebenarnya
mengajar bukanlah tugas pokok kami, tapi kami tidak bisa diam saja melihat
ketertinggalan tepat berada di depan mata. Lagipula mengajar memberikan
kesenangan batin, terutama untuk saya pribadi, karena pada dasarnya saya memang
suka anak-anak. Bisa bersama-sama merangkul mereka. Terutama ketika saya mampu
memberikan sesuatu yang bisa merubah mereka ke arah yang lebih baik. Contohnya
saja ketika saya baru pertama kali menginjakkan kaki di pulau ini, masih banyak
sekali anak-anak yang belum bisa membaca, namun setelah satuan kami membantu
proses belajar-mengajar, Alhamdulillah saat ini sudah banyak anak-anak yang
bisa membaca. Hal itulah yang menciptakan kepuasan tersendiri bagi saya dan
teman-teman
Dikelas
satu ada dua angota yang mengajar. Dengan jumlah 34 siswa perlu perjuangan
extra untuk mendampingi mereka. Kami mengajar dari nol karena mengenal huruf
adalah pengalaman pertama bagi mereka. Kami upayakan anak-anak bisa membaca
selama waktu penugasan kami yang singkat karena membaca adalah kunci untuk
menggali berbagai ilmu pengetahuan
Yah,
namanya juga kelas satu. Tingkah alaminya sering membuat kewalahan. Kalau
dibilang nakal, memang mereka sangat nakal. Saat pertama kali masuk, kadang-kadang kami
dilempari kulit pisang atau kulit permen. Lalu ada juga yang naik ke atas meja atau
kejar-kejaran di dalam kelas. Kami sudah menegur mereka, namun tidak
dihiraukan. Kenakalan mereka sungguh luar biasa. Jadi kami butuh kesabaran
extra untuk mengajar disini
***
Sejatinya
ketahanan nasional tak selamanya dipertahankan dengan kekuatan fisik atau
tempur. Justru senjata terkuat ada pada masyarakat. Inilah pentingnya
menanamkan pandangan hidup bangsa sejak dini, karena nyatanya anak-anak
perbatasan minim informasi tentang tanah airnya sendiri. Oleh karena itu, tiga kali
dalam seminggu aku dan dua anggota lainnya mengadakan ekstrakurikuler di
sekolah. Kami berusaha mengenalkan pancasila dengan cara yang mudah. Ekstrakurikuler
tersebut biasanya berbetuk kuis sambung. Misalnya saja aku menunjuk murid A
untuk menyebutkan sila ke 1, kemudian dilanjutkan oleh murid B yang menyebutkan
sila ke 2, begitulah seterusnya sampai semua anak benar-benar mengetahui makna
pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia. Karena dengan paham
pancasila, anak-anak bisa mengenal bangsanya. Dengan mengenal, mereka akan mencintai,
hingga akhirnya muncul kebanggan untuk mempertahankan tanah kelahirannya.
***
Pagi
ini aku di panggil ke Markas Komando Satuan tugas atau Mako Satgas di Kota Atambua.
Dokumentasi yang pernah ku buat di Pos Dafala ternyata mendapat apresiasi dari
komandan. Dari awal tiba di pulau ini, komandan memang berkomitmen ingin mengusung
program rumah wirayuda ke perbatasan.
Rumah
wirayuda merupakan wadah kegiatan yang kami gagas secara terarah, terukur dan
berkelanjutan untuk mendukung masyarakat. Ada lima bidang yang menjadi pokok
kegiatan di rumah wirayuda, yaitu pendidikan, kesehatan, cinta pancasila,
kewirausahaan, dan wirayuda berbagi. Masing-masing pos diwajibkan memiliki satu
program unggulan. Jika di Pos Dafala pendidikan jadi fokus utama, di Pos Silawan
justru mengangkat potensi kewirausahaan warganya. Bekerja sama dengan aparat
desa dan ibu-ibu PKK, anggota Pos Silawan memberdayakan masyarakat untuk membuat
kerajinan tangan khas Kabupaten Belu. Hasilnya sungguh di luar dugaan. Barang
hasil kerajinan tangan mereka diminati banyak turis. Baik turis dari Timor
Leste, maupun turis Domestik Indonesia.
Demi
menjaga kelestarian usaha, Satgas Pamtas bersama aparat desa mendirikan Souvenir Cover di pintu lintas batas
Potaeng. Berbagai souvenir seperti lukisan pasir, patung dan berbagai kerajinan
tangan lainnya bisa di jual disni. Dengan didirikannya Souvenir Cover, peluang usaha makin terbuka lebar bagi masyarakat.
Gerbang dua negara yang tadinya hanya sebagai jalur perlintasan antara Republik
Indonesia dengan Republik Demokrasi Timor Leste, kini telah berubah menjadi
tempat yang menyimpan peluang usaha tinggi jika masyarakat terus dan mau
berusaha mengembangkan usaha ini ke taraf yang lebih baik lagi.
***
Pos
Mota’ain merupakan pintu lintas batas teramai dari 39 pos yang ada. Bukan hanya
itu, Pos Mota’ain kerap kali dijadikan tempat pertemuan antara dua keluarga
yang terpisah. Untuk hal ini, kami para prajurit TNI memberikan toleransi penuh
asalkan ada laporan yang jelas. Karena kami mengerti, secara batas negara mereka
memang terpisah, tapi secara ikatan budaya mereka terlahir dari nenek moyang
yang sama.
Namun
ada pula yang tak beruntung. Pak alfredo misalnya. Sejak masuk menjadi warga
negara Indonesia, ia tak pernah lagi bertemu dengan sanak saudaranya di Timor
Leste
“pas saya 18 tahun indonesia masuk. Indonesia
masuk disana, kami sudah rasa baik, sudah senang karna apa, orang punya anak
semua kasih masuk di sekolah. Jadi masyarakat semua sudah ada yang pintar sehingga
kami semua senang indonesia. Sehingga Indonesia keluar kami lari ikut kesini.
Mati hidup dengan Indonesia, merah putih”
Saat
mendengar ucapan Pak Alfredo, hatiku bergetar. Sosok paruh baya ini benar-benar
tulus mencintai Indonesia. Rasa cinta pada Indonesia membuatnya rela
meninggalkan kemapanan di Timor Leste.
Saat
ini Pak Alfredo hanya bekerja sebagai petani musiman seperti warga pada umunya.
Namun ia baru akan mulai bekerja pada musim hujan, karena bercocok tanam hanya bisa
dilakukan di musim hujan saja. Saat musim kemarau, lahan di biarkan terbengkalai
dengan alasan susahnya memperoleh air. Pada akhirnya banyak warga mengangggur
saat musim kemarau. Kurangnya informasi dan keterampilan membuat lahan penuh
poteni berubah menjadi lahan tidur.
Bukan
hanya masalah air saat musim kemarau, gagalnya penanaman cabe membuat anggota
kelompok tani patah semangat. Akhirnya mereka menyerah satu persatu. Tapi tidak
dengan Pak Alfredo. Ia orang yang gigih, tidak pantang menyerah dan mau
berusaha walaupun dengan segala keterbatasan.
Perjuangannya
bekerja keraspun membuahkan hasil. Dalam kurun waktu kurang dari 6 bulan, Pak
Alfredo berhasil memanen jagung dan berbagai macam sayuran. Kelak saat kami
pergi, Pak Alfredo tentu bisa melanjutkan pertaniannya sendiri. Karena
sesungguhnya, kesuksesan tidak bisa diraih dengan mudah. Butuh kerja keras dan
usaha seperti yang Pak Alfredo lakukan selama ini
***
Masih
dalam rangkaian kegiatan rumah wirayuda, biasanya kami mengadakan bakti sosial tiap
dua minggu sekali. Lokasinya bergilir di desa-desa perbatasan. Kali ini kami
menuju Desa Haumeniana. Jaraknya kurang lebih 3 jam dari Desa Atambua. Saat
tiba disana, kami disambut hangat oleh warga setempat
Bakti
sosial ini kami kemas dengan melibatkan semua kalangan agar semua orang dapat
berpartisipasi. Untuk segi pendidikan, kami sediakan permainan interaktif yang
berwawasan kebangsaan untuk anak-anak sekolah. Sedangkan dari segi kesehatan
kami adakan pengobatan massal. Pengobatan massal ini banyak diminati oleh warga
setempat dan warga dari desa tetangga. Hal ini terjadi karena jauhnya akses
kesehatan bagi warga yang sudah menjadi masalah klasik di pelosok Indonesia
selama bertahun-tahun. Maka dengan adanya pengobatan massal ini, kami berupaya
mendekatkan jarak antara warga dengan hak nya memperoleh kesehatan. Mungkin
saja pengobatan massal ini kecil artinya, namun ramainya sambutan warga cukup
membukakan mata bahwa pelayanan kesehatan merupakan hal langka bagi mereka.
***
Kini
tak terasa sudah 6 bulan aku bertugas di Desa Dafala. Sebuah desa kecil yang
nantinya akan kurindukan ketika aku harus pergi meninggalkan pulau ini. Selama
6 bulan berada disini, aku memperoleh banyak pembelajaran berharga. Dari anak-anak
aku melihat tumbuhnya generasi cerdas yang siap membangun perbatasan. Dari Pak
Alfredo aku belajar tentang makna perjuangan dan mencintai merah putih
sesungguhya. Dan untuk teman-teman seperjuangan, terima kasih karena telah
mengajarkanku tentang indahnya berbagi dan membantu masyarakat. Seperti yang
pernah dikatakan oleh Jendral Sudirman, “tentara bukanlah orang khusus, tapi mereka
merupakan bagian dari masyarakat yang mempunyai kewajiban tertentu. Dari, oleh,
dan untuk rakyatlah mereka ada”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar